Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah
Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah adalah perpaduan dari dua buah tarekat besar, yaitu Thariqah Qadiriyah dan Thariqah Naqsabandiyah. Pendiri tarekat baru ini adalah seorang Sufi Syaikh besar Masjid Al-Haram di Makkah al-Mukarramah bernama Syaikh Ahmad Khatib Ibn Abd.Ghaffar al-Sambasi al-Jawi (w.1878 M.). Beliau adalah seorang ulama besar dari Indonesia yang tinggal sampai akhir hayatnya di Makkah. Syaikh Ahmad Khatib adalah mursyid Thariqah Qadiriyah, di samping juga mursyid dalam Thariqah Naqsabandiyah. Tetapi ia hanya menyebutkan silsilah tarekatnya dari sanad Thariqah Qadiriyah saja. Sampai sekarang belum diketemukan secara pasti dari sanad mana beliau menerima bai’at Thariqah Naqsabandiyah.
Sebagai seorang mursyid yang kamil mukammil Syaikh Ahmad Khatib sebenarnya memiliki otoritas untuk membuat modifikasi tersendiri bagi tarekat yang dipimpinnya. Karena dalam tradisi Thariqah Qadiriyah memang ada kebebasan untuk itu bagi yang telah mempunyai derajat mursyid. Karena pada masanya telah jelas ada pusat penyebaran Thariqah Naqsabandiyah di kota suci Makkah maupun di Madinah, maka sangat dimungkinkan ia mendapat bai’at dari tarekat tersebut. Kemudian menggabungkan inti ajaran kedua tarekat tersebut, yaitu Thariqah Qadiriyah dan Thariqah Naqsabandiyah dan mengajarkannya kepada murid-muridnya, khususnya yang berasal dari Indonesia.
Penggabungan inti ajaran kedua tarekat tersebut karena pertimbangan logis dan strategis, bahwa kedua tarekat tersebut memiliki inti ajaran yang saling melengakapi, terutama jenis dzikir dan metodenya. Di samping keduanya memiliki kecenderungan yang sama, yaitu sama-sama menekankan pentingnya syari’at dan menentang faham Wihdatul Wujud. Thariqah Qadiriyah mengajarkan Dzikir Jahr Nafi Itsbat, sedangkan Thariqah Naqsabandiyah mengajarkan Dzikir Sirri Ism Dzat. Dengan penggabungan kedua jenis tersebut diharapkan para muridnya akan mencapai derajat kesufian yang lebih tinggi, dengan cara yang lebih mudah atau lebih efektif dan efisien. Dalam kitab Fath al-’Arifin, dinyatakan tarekat ini tidak hanya merupakan penggabungan dari dua tarekat tersebut. Tetapi merupakan penggabungan dan modifikasi berdasarkan ajaran lima tarekat, yaitu Tarekat Qadiriyah, Tarekat Anfasiyah, Junaidiyah, dan Tarekat Muwafaqah (Samaniyah). Karena yang diutamakan adalah ajaran Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah, maka tarekat tersebut diberi nama Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Disinyalir tarekat ini tidak berkembang di kawasan lain (selain kawasan Asia Tenggara).
Penamaan tarekat ini tidak terlepas dari sikap tawadlu’ dan ta’dhim Syaikh Ahmad Khathib al-Sambasi terhadap pendiri kedua tarekat tersebut. Beliau tidak menisbatkan nama tarekat itu kepada namanya. Padahal kalau melihat modifikasi ajaran yang ada dan tatacara ritual tarekat itu, sebenarnya layak kalau ia disebut dengan nama Tarekat Khathibiyah atau Sambasiyah, karena memang tarekat ini adalah hasil ijtihadnya.
Sebagai suatu mazhab dalam tasawuf, Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah memiliki ajaran yang diyakini kebenarannya, terutama dalam hal-hal kesufian. Beberapa ajaran yang merupakan pandangan para pengikut tarekat ini bertalian dengan masalah tarekat atau metode untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Metode tersebut diyakini paling efektif dan efisien. Karena ajaran dalam tarekat ini semuanya didasarkan pada Al-Qur’an, Al-Hadits, dan perkataan para ‘ulama arifin dari kalangan Salafus shalihin.
Setidaknya ada empat ajaran pokok dalam tarekat ini, yaitu : tentang kesempurnaan suluk, tentang adab (etika), tentang dzikir, dan tentang murakabah.


















KOMENTAR BAY’AT BERITA PALSU
Assalamualaikum, saya adalah salah seorang pengikut Syeikh Ahmad Shohibulwafa Tajul ‘Arifin ra. yg lebih dikenal sebagai Abah Anom. Saya terus terang merasa tercengang dan merasa heran dengan tulisan dan pernyataan dalam tulisan di bawah foto kunjungan Syeikh Hisyam ke Suryalaya dengan jabatan tangan antara Syeikh Hisyam dengan Abah Anom di http://www.al-falah.or.id dan di http://ariefhamdani.blogspot.com Menurut saya pada saat itu bukan dilakukan bay’at sebab itu hanya jabat tangan silaturahmi diantara sesama Mursyid, sebab saya mendengar dari orang yg berada disana yakni KH.Wahfiudin yang duduk diantara Abah Anom dan Syeikh Hisyam selaku penerjemah tidak pernah terlontar dari pernyataan beliau bahwa pada saat itu Syeikh Hisyam membaiat Abah. Apalagi diceritakan seluruh jamaah disana mengangkat tangan untuk dibay’at oleh Syekh Hisyam. Yang kenyataannya tidak ada jamaah TQN yang di bay’at pada waktu itu. Sebab pertama logikanya, jika Abah Anom dan murid-muridnya di bay’at dan diperbaharui lagi Thoriqatnya maka amalan Thoriqat itu pasti ada perubahan untuk seluruh jamaah pangikut TQN Suryalaya yang jumlahnya sudah mencapai puluhan juta tapi kenyataannya amalan TQN Suryalaya tidak ada perubahan sedikitpun, yakni amalannya sama dari dulu sampai sekarang dan yang ke dua mana ada Mursyid yang sudah berdiri sendiri dalam silsilah Thoriqotnya dibaiat kembali oleh sesama Mursyid dari Thoriqoh lain? Abah Anom adalah Mursyid dengan silsilah ke 37 dari dua silsilah Thoriqoh yg sudah berdiri sendiri. Beliau dibay’at oleh Ayahandanya yg pada zamannya sebagai Mursyid yakni Syeikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad ra. Sebab dalam Thoriqoh Qodiriyyah yang didirikan oleh Syeikh Abdul Qodir mengatakan bahwa “seseorang yg sudah mencapai tingkatan tertinggi yakni Mursyid dalam Thoriqot Qodiriyyah, ia sudah tidak lagi membutuhkan Musryid yg lain, sebab sudah langsung bimbingan dari Allah”.Itu perkataan Syeikh Abdul Qodir Qs.
Terus terang dengan tulisan yg menyatakan tentang Abah Anom untuk pertama kalinya jamaah mendengar suara Pangersa Abah Anom, menurut saya itu mungkin berlaku bagi hadirin yg baru mendengarnya artinya abah anom berdoa bukan pertama kali , sebab Pangersa Abah memang tidak sembarangan berkomentar ataupun berdoa, namun itu dilakukan tidak pada saat itu saja sudah sering Pangersa Abah mengeluarkan suaranya. Saya mohon kerendahan hati, agar tidak membuat pernyataan yg timpang sebelah di http://www.al-falah.or.id , Saya hanya mengharapkan klarifikasi kebenaran yang terjadi disana di Suryalaya ketika Syekh Nazim dan Abah Anom tanpa pemberitaan yang dibuat-buat. Karena dikhawatirkan pemberitaan yang salah dalam blog tersebut akan menjadi dampak yang negatif terhadap jamaah 2 Thoriqoh besar dari Thoriqoh Syekh Nazim dan Abah Anom termasuk Pondok Pesantren al-Falah Cicalengka mama Syahid. Kita sebagai orang muslim pengikut Rosul dan mursyidnya yang telah mengetahui akan Allah yang Maha Kasih Sayang dan Allah mengetahui atas segala perbuatan makhluq dan setiap langkah bumi langit yang indah ini akan menjadi saksi kita atas perbuatan yang kita lakukan.
Kita sebagi orang yang memiliki dasar pesantren mengetahui hukum Islam Publikasi dengan ketidak benaran membohongi jutaan umat adalah dosa besar, apalagi dikhawatirkan diposting atau di link ke blog lain bertambah penyebaran dosa, hal itu gara-gara ada blog atau pesantren sebagai pengadu domba umat.
Oleh sebab itu kita sebagai muslim mari kita sama-sa menjungjung kebenaran yang dilandasi ridlo Allah, saya berharap untuk mengklarifikasi tulisan dan photo-photo untuk menjaga dampak yang negatif kepada jamaah dan pesantren dikarenakan blog mama syahid diPesantren Al-Falah Cicalengka yang mempelajari Islam yang dibuat. Dan untuk klarifikasi bisa juga ditanyakan langsung kepada salah satu orang yang sering membantu atau dipinta Syekh Kabani dalam menerangkan thoriqat kepada jamaah haqqani di Jakarta. Beliau ini termasuk salah satu wakil talqin dzikir TQN juga Muballigh Internasional di Thoriqah Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah selain muballigh pengisi komentar acara di sinetron religi HIDAYAH TPI , beliau pulalah yang diminta syekh Nazim untuk minta mendampingi diantar ke Suryalaya bersilaturahmi dengan Mursyid besar 2 Thoriqat. Menurut beliau Syekh Nazim memandang Syekh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin (Abah Anom) adalah wali agung di timur jauh. Bahkan ada berita baik bahwa KH.Wahfiuddin telah mengklarifikasi didepan sebagiaan jamaah Haqqani bahwa abah di bey’at itu berita yang salah..
Sebab, bagi saya semua Mursyid mempunyai kedudukan mulia dihadapan Allah. Saya hanya berharap kita bisa saling menghormati dengan ajaran masing-masing, tidak ada fanatisme yg berlebihan sehingga menyebabkan pengikut ajaran Thoriqoh yg lain merasa direndahkan. Saya mohon maaf yg sebesar-besarnya dengan kelancangan komentar ini, hanya saja saya ingin memberi klarifikasi dengan kondisi yg sebenarnya. Terima kasih, Wassalamu’alaikum.wr.wb
saya jg stuju dengan mas ikhwan diatas, bahwa dari situs naqshbandiyah.org sndiri ga disbutin mengenai hal baiat tersebut, setelah saya translate pun ga ad keterangan itu, yg ada malah situs itu memberi judul, mengunjungi wali agung dari timur jauh. jadi saya sndiri ga tau ko bisa berita ini terdistorsi segitu jauhnya.
saya yakin, bahwa ga ada niatan jelek dr si empunya situs al-falah selain niatan khidmat kepada sang guru yang mungkin terlalu besar..
saya harap hal demikian tidak melunturkan persaudaraan sesama ikhwan tarekat, karena tujuan kita adalah sama, yaitu Allah.
terima kasih atas verifikasinya.
@mangsoleh
Hati-hati karena banyak yang mengaku-aku sebagai ikhwan TQN, yang seakan-akan suaranya mewakili lembaga TQN sendiri atau seakan-akan dia telah diberi mandat oleh Pangersa Abah untuk “meluruskan” atau tindakan apapun, tanpa mau menunjukkan siapa sebenarnya jati-dirinya. Siapa tahu orang tersebut adalah yahudi yang menyamar sebagai murid atau orang sok tahu yang kemudian mengatasnamakan TQN akibatnya karena kebodohannya itu justru akan memancing hal-hal yang tak diinginkan.
@ikhwan
Jika benar anda seorang Ikwan sadarilah posisi anda berada dimana, seorang Ikwan jangan bertindak sekan-akan sudah menjadi murid atau badal dan bahkan mursyid, dengan adab soktahu seperti itu, jangankan anda bertindak atas nama TQN, untuk menjadi murid pun belum tentu diterima. Hati-hati dalam bertindak dan berbicara. Serahkan hal tersebut pada orang yang memiliki kompentensi mengenai masalah ini. Bukan dengan obral omongan ditempat umum, yang justru kelakuan anda menyebabkan tersebarnya fitnah dan namimah. Apa masih belum cukup kata2 ini bagi Anda? “Bahkan ada berita baik bahwa KH.Wahfiuddin telah mengklarifikasi didepan sebagiaan jamaah Haqqani bahwa abah di bey’at itu berita yang salah”
Jika benar Anda mengerti hukum Islam Publikasi, tentulah anda tidak memakai adab yahudi dalam mengklarifikasikan sesuatu, datangi secara baik-baik (dengan adab Islam) ke Al Falah atau Yayasan Haqani untuk bertabayun, pasti anda akan diterima dengan baik, apalagi keduanya adalah lembaga resmi. Bukan dengan omong kiri-kanan, fitnah kiri-kanan di tempat umum, spam sana spam sini, untuk menarik perhatian. Anda yang katanya mengerti hukum Islam Publikasi tentu tahu tahapan klarifikasi, langkah pertama anda tanyakan kepada orang yang berkompentesi dalam hal ini, misalnya ke Ajengan Gaos atau jika saja memungkinkan ke Pangersa Abah. Kemudian minta nasihatnya tanyakan hal apa yang mesti dilakukan, jika kemudian diberi mandat resmi silakan teruskam, temui Mama Syahid dan disana apakah anda akan katakan bahwa anda diberi mandat oleh meluruskan dan memberi dalil-dalil seperti yang dituliskan di coomet Blog ini? atau ketika berkoresponden dengan fihak Haqani dan Syaikh Mawlana Nadzim dan minta kejelasan tentang hal tersebut secara RESMI apakah juga demikian?
@ikhwan kelakuan anda pas sekali pada point 1 s/d 3 di bawah ini, sebetulnya saya ingin menolong Anda, tetapi menurut Imam Al Ghazali penyakit anda tak mungkin disembuhkan.
hal yang harus kau tinggalkan adalah sebagai berikut.
Meninggalkan perdebatan sedapat mungkin dan/atau menegakan hujah (alasan) bagi setiap orang yang menyebutkan suatu permasalahan, karena dalam hal ini mengandung banyak tanda, di mana dosanya lebih banyak dari pada manfaatnya. Mengapa dosanya lebih hanyak, karena hal itu menjadi sumber bagi setiap akhlak yang jelek, seperti riya, hasud, sombong, dendam, permusuhan dan ujub.
Memang benar seandainya muncul suatu masalah antara dirimu dengan seseorang atau sekelompok orang, sedangkan kau bermaksud mempertegas dan memenangkan kebenaran, sehingga kebenaran tidak tersia-sia, maka kau boleh membahas dan mendiskusikannya, Akan tetapi, hal ini pun harus memiliki dua tanda:
pertama engkau tidak mengubah sikap dan tidak membeda-bedakan antara apakah kebenaran itu muncul dari lidahmu atau teman diskusimu, Bahkan engkau akan merasa senang bila ternyata bila kebenaran itu justru tersingkap dari teman diskusimu. Sebab penerimaannya terhadap apa-apa yang bersumber dari dirinya akan lebih mudah diterima olehnya daripada apa yang bersumber darimu.
kedua diskusi di tempat yang sunyi lebih kau sukai daripada di tempat umum yang ramai. Jika kau mengatakan suatu masalah dan kau tahu bahwa kebenaran berada dipihakmu sementara dia mencemoohkan atau melecehkan, berhati-hatilah menegakan hujah dihadapannya. Tinggalkanlah dia sebab tidak ada faedah bersamanya, justru kau akan mendapat faedah bila meninggalkannya.
Ketahuilah, mempertanyakan sesuatu yang sulit sama halnya dengan menyodorkan penyakit hati kepada seorang dokter, dan jawaban untuk pertanyaan itu merupakan salah satu upaya atau terapi menyembuhkan penyakit.
Ketahuilah, mempertanyakan sesuatu yang sulit sama halnya dengan menyodorkan penyakit hati kepada seorang dokter, dan jawaban untuk pertanyaan itu merupakan salah satu upaya atau terapi menyembuhkan penyakit.
Ketahuilah, orang yang bodoh adalah orang yang hatinya sakit, sedangkan seorang ulama yang mengamalkan ilmunya adalah seorang dokter. Ulama yang kurang ilmu, terapinya tidak mustajab. Sedangkan ulama yang sempuma, belum tentu mampu menyembuhkan setiap penyakit, tetapi hanya mampu menyembuhkan penyakit orang yang memang mengharapkan kesembuhan dan kebaikan. Jika penyakitnya sudah kronis atau akut, maka sulit diharapkan kesembuhannya. Dalam hal ini, seorang dokter atau tabib cukup mengatakan, “Ini tidak mungkin disembuhkan.” Karena itu, engkau jangan disibukkan dengan mengobatinya karena hanya menyia-nyiakan umur.
Kemudian ketahuilah, penyakit bodoh ada empat macam. Tiga bisa disembuhkan, sedangkan sisanya tidak.
1. Penyakit bodoh yang paling tidak bisa menerima kesembuhan, adalah penyakit yang orang bodoh yang bersumber dari penyakit hasud dan marah dalam dirinya. Ketika pertanyaan yang diiringi oleh hasud itu dijawab dengan jawaban yang sangat jelas, baik dan tepat, orang itu tetap saja tidak akan menerima. tetapi semakin marah, memusuhi dan hasud. Maka jawaban yang terbaik untuk persoalan ini adalah tidak menjawabnya. Alias diam. “Setiap permusuhan bisa diharapkun kesembuhannya. Kecuali permusuhan yang muncul dari hati yang hasud” Oleh sebab itu, kau harus menghindar dari masalah ini, meninggalkan orang yang punya jiwa seperti ini dan tidak perlu menanggapinya. Biarkanlah ia dengan penyakit hatinya. Allah swt. berfirman: “Maka berpalinglah [hai Muhammad] dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi.” (QS. Al Najm: 29). Hasud yang menjadi pemicu ucapan dan tindakan hanya akan menyalakan api dalam kebun ilmunya. Hasud memakan kebaikan sebagaimana api yang memakan kayu.
2. Penyakit bodoh yang bersumber dari kedunguan. Penyakit ini pun tidak bisa disembuhkan, sebagaimana yang dikatakan Isa as: “Saya mampu menghidupkan orang mati, tetapi saya tidak mampu mengohati penyakit tolol.” Orang dungu adalah orang yang sibuk mencari ilmu dalam waktu yang singkat dan dangkal, dan samasekali tidak mempelajari ilmu yang rasional dan syar’iy, kemudian karena kedunguannya ia bertanya dan memprotes seorang ulama hebat yang sepanjang usianya telah digunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu rasional dan syar’iy. Inilah orang dungu yang tidak tahu dan tidak menduga bahwa sesuatu yang menyulitkannya juga menjadi persoalan yang menyulitkan orang alim hebat. Jika ia tidak tahu kapasitas dirinya, maka pertanyaan yang dilontarkannya, muncul adalah cermin dari kedunguannya. Karena itu, haruslah kau berpaling dari orang yang seperti ini dan tak perlu membuang waktu untuk sibuk memikirkan jawabannya.
3. Penyakit bodoh dari orang oportunis. Orang oportunis yang selalu mencari petunjuk kepada beberapa orang yang tidak memiliki keahlian untuk memahami perkataan orang-orang terkemuka. Dia bertanya mengenai hal-hal yang tidak jelas agar mendapat manfaat (keuntungan pribadi) dari jawaban yang diberikan. Akan tetapi, karena keterbatasan pemahamamnya ia tidak mengetahui hakikatnya, Karena itu engkau tidak perlu memberikan jawaban kepadanya. Rasulullah saw. bersabda: “Kami adalah kelompok para Nabi yang diperintahkan berbicara kepada manusia menurut ukuran. (kemampuan) akal mereka.”
4. Adapun penyakit bodoh yang masih bisa disembuhkan adalah penyakit bodoh yang diderita orang berakal yang giat mencari petunjuk dan pemahaman. Ia tidak dikalahkan oleh hasud, nafsu amarah, senang syahwat,kehormatan dan harta. Ia adalah pencari kebenaran. Pertanyaan-pertanyaannya tidak lahir dari perasaan hasud, juga tidak bermaksud untul menyusahkan atau menguji. Penyakit bodoh ini bisa disembuhkan, dan yang ditanya boleh memikirkan jawabannya, bahkan wajib menjawab pertanyaannya
@ikhwan, kayaknya sih bukan ikhwan TQN, karena nasihat Pangersa Abah yang selalu ditekankan adalah “ulah sok moyok pamake batur” dan sebagian besar ikhwan TQN pasti tahu artinya.
comment: KOMENTAR BAY’AT BERITA PALSU.
Gw juga pernah dapat spam dari yang mengaku Ikhwan TQN ikhwan_tqn@yahoo.co.id seperti dituliskan di comment tapi gw gak begitu aja percaya yang disampaikan. Gw check dulu. Pertama gw check dulu siapa yang menyampaikan berita, apa benar ada Ikwhan TQN dengan alamat email ikhwan_tqn@yahoo.co.id merupakan jama’ah TQN, setelah gw check ternyata gak Ikhwan TQN ikhwan_tqn@yahoo.co.id yang menjadi murid atau jama’ah TQN.
Trus gw check britanya, ternyata sumber brita utamany berasal dari http://www.islamicsupremecouncil.org/country_reports/World_Tour_2001/Indonesia/May5/default.htm disit ada kata2 – Just before leaving, Mawlana Shaykh Nazim prayed two rakats after which he went to Abah Anom and gave him initiation into the Naqshbandi-Haqqaniyya tariqat. – Karena berita itu keluar dari lembaga resmi, jadi gw milih diem, karena gw gak punya wewenang utk komentar. sedangkan kejadian tersebut terjadi tahun 2001 dan selama itu lembaga resmi TQN pun gak komentar… eeeh tiba2 muncul Ikhwan TQN ikhwan_tqn@yahoo.co.id apa urusannya? kenapa mesti megurus yang bukan urusannya.
Gw yakin ikhwan ni tukang kibul, dia mengaku ngerti hukum Islam Publikasi. tapi liat “Bahkan ada berita baik bahwa KH.Wahfiuddin telah mengklarifikasi didepan sebagiaan jamaah Haqqani bahwa abah di bey’at itu berita yang salah” Bagi orang yang ngerti hukum Islam Publikasi pasti tahu arti 1 H + 5 W + tabayun. Jika berita itu benar, minimal memenuhi syarat 3W When: terjadi dimana, Where: kapan dan Who: siapa saja saksinya. Gak perlu dibahas lebih dalam, dnga analisa sederhana saja gw yakin yang disampaikan Ikhwan TQN ikhwan_tqn@yahoo.co.id tsb adalah BOHONG. kesimpulanya justru dia sendri yang nyebarin BERITA PALSU. Penyebutan tokoh terkenal di commentnya makin menunjukan kebohongannya, karena mengandung Falacy yang disebut dengan Ipse Dixit. (gw yakin si Ikhwan TQN ikhwan_tqn@yahoo.co.id gak ngerti istilah ini, karena gw sendiri baru denger istilah hukum Islam Publikasi)
@@@ Ikhwan, gw liat gaya bahasa yang loe pake kok kayak gaya bahasa segolongan orang yang suka bilang bid’ah ke golongan lain. Gw kasi tau ya, gak pernah ada dalam sejarahnya perpecehan dalam sufi sekalipun beda tarekat. Beda sekali dengan segolongan macam loe yang suka bilang bid’ah, jangankan dengan golongan lain dengan golongan mereka sendiripun mereka saling cakar. Jadi jangan coba2 adu domba diantara kami.
@@@ admin sebaiknya hati2 memuat komentar yang tak jelas asal-usulnya, terutama untuk masalah yuang sensitif, bisa malaah terjebak turut serta menyiarkan fitnah.
comment: KOMENTAR BAY’AT BERITA PALSU.
Melanjutkan komentar sebelumnya, saya merasa perlu untuk melanjutkan pembahasan. Pembahasan yang saya lakukan merujuk kepada beberapa buku yang membahas tentang tashawuf. Hipotesis yang saya ajukan adalah murni pendapat pribadi saya, lembaga TQN ataupun Haqqani sama sekali tidak terkait dengan hipotesis yang saya ajukan. Hipotesis yang saya ajukan adalah kajian ilmiah yang didasari referensi yang ada. Jika Hipotesis saya ternyata keliru, saya tak keberatan untuk meralatnya.
Pembahasan ditujukan kepada para salikin yang menurut Nasihat Imam Ghazali masuk ke point ke empat (Nasihat tersebut ada di komentar saya sebelumnya di atas, dimana hal tersebut dikutip dari buku Imam Ghazali yang berjudul Risalah at-Tashawuf)
Pembahasan dimaksudkan agar jangan ada yang terpancing oleh fitnah dan adu domba yang dilakukan oleh seseorang yang beralamat e-mail tqn_ikhwan@yahoo.co.id yang ternyata BUKAN Ikhwan TQN. Pembahasan ini dilakukan karena di dorong nasihat Imam Al Gazali, dalam Risalah at-Tasawwuf yang menyatakan “Pendakwah yang menyesatkan adalah hantu-hantu gentayangan yang mengajak pergi manusia dari jalan keselamatan, untuk kemudian diajak ke tempat yang seram, lalu mereka dibinasakan. Karena itu, mereka harus menjauhi dakwah semacam ini dan orang yang memberikannya, karena meskipun nasihat-nasihatnya bermanfaat secara agama, nasihat itu tidak mampu menghindarkannya dari tarikan setan. Barangsiapa mempunyai tangan dan kekuasaan, maka wajib baginya menurunkan pendakwah semacam ini dari mimbarnya dan mencekalnya supaya tidak bergaul dan mempengaruhi orang. Melakukan ini termasuk perintah agama.”
Catatan Khusus: Ditujukan kepada orang dungu dan hasud macam tqn_ikhwan@yahoo.co.id untuk menambah wawasan kamu:
Hipotesis bukanlah kesimpulan, hipotesis adalah dugaan kuat yang harus dibuktikan menjadi suatu kesimpulan, dalam ilmu mantiq hipotesis adalah tingkatan yakin yang disebut dengan dzon. Tingkatan yakin dimulai dari wahm (25% yakin), syak (50% yakin), dzon (75% yakin), yaqin atau qath’i(100% yakin), sementara artikel tqn_ikhwan@yahoo.co.id mencapai tahap wahm pun belum, tetapi karena hasud dalam dada yang didahulukan tqn_ikhwan@yahoo.co.id langsung memberikan justifikasi dan memvonis fihak lain sebagai terhukum dan menyeret nama Ustadz terkenal sebagai bahan fitnahnya
I. REFERENSI
A. REFERENSI PERTAMA dari Imam Al Gazali, “Risalah at-Tasawwuf”
a. Makna Seorang Syekh atau Mursyid
Makna mendidik bagi seorang mursyid menyerupai pekerjaan seorang petani, yaitu sama dalam kemampuan mencabut duri dan rerumputan, kemudian mengeluarkan tanam-tanaman sampingan di sekitarnya yang sekiranya mengganggu tanaman pokok, sehingga tanaman yang dipelihara menjadi baik dan buahnya sempurna. Seorang syekh atau mursyid terhadap salik atau muridnya harus mampu menunjukkan dan mengantarkannya kejalan Allah, karena Allah telah mengutus seorang Rasul (utusan) kepada hamba-hambaNya agar menunjukkan mereka ke jalan Allah. Ketika Rasulullah saw. wafat, kedudukannya sebagai guru dan penuntun umat digantikan oleh para khalifahnya yang terpilih. Para khalifah ini mendidik dan mengantarkan umat kejalan Allah. Dengan demikian, para khalifah Rasul juga mempunyai peran sebagai guru, mursyid, syekh atau pendidik.
b. Syarat Seorang Syekh atau Mursyid
Syarat seorang syekh atau mursyid yang layak menjadi pengganti Rasulullah saw. haruslah orang yang alim. Akan tetapi, tidak setiap orang yang alim patut menduduki jabatan khalifah atau pengganti Rasulullah. Di bawah ini akan dijelaskan sebagian tanda orang alim yang pantas menjadi mursyid, agar tidak setiap orang yang alim mengaku-ngaku mursyid.
1. dia tidak mencintai dunia, jabatan dan kehormatan;
2. diapun telah dididik ditangan mursyid juga. Ia mengikuti mursyid yang memiliki penglihatan batin dan mursyidnya bersambung ke mursyid-mursyid sebelumnya hingga mata rantainya sampai kepada Rasulullah saw.;
3. dia senantiasa melatih jiwanya dan menjalankan riyadlah dengan sedikit makan, minum, bicara dan tidur
4. dia banyak melakukan shalat sunnah, sedekah dan puasa;
5. dia dikenal memiliki akhlak yang terpuji berupa sabar, tekun, syukur, tawakkal, yakin, berjiwa tenang (tumaninah), qana’ah, dermawan, tawadu’, rendah hati, alim, jujur, punya rasa malu, tepat janji, wibawa, lembut dan tenang,
6. dia disucikan dari akhlak tercela seperti takabur, kikir, hasad, dengki, tamak, panjang angan-angan, gegabah dan sebagainya
7. dia harus terhindar dari fanatisme dari perasaan tak butuh ilmu dari yang lain karena merasa cukup dengan ilmunya sendiri (istagna)
maka ia adalah cahaya dari pancaran cahaya-cahaya Rasulullah saw. Orang yang seperti ini layak diikuti dan dijadikan mursyid. Akan tetapi, untuk menemukan yang seperti ini sangat sulit dan memang jarang. Sebab, banyak orang yang mengaku mursyid, tetapi pada dasarnya dia hanya mengajak manusia kepada permainan dan perbuatan yang tak berguna. Bahkan, ada atheis yang mengaku sebagai mursyid dengan menyimpang dari syari’ah.
Karena banyaknya orang yang mengaku mursyid, para mursyid yang sesungguhnya menjadi tersembunyi. Dengan beberapa hal yang telah kusebutkan, akan diketahui mursyid yang hakiki, yaitu yang tak menyimpang dari hal di atas. Tetapi jika menyimpang dari hal di atas, maka dia hanya orang yang mengaku sebagai mursyid.
Di antara kebahagiaan yang paling bahagia adalah menemukan mursyid atau syekh seperti yang yang tanda-tandanya kami sebutkan di muka, dan terlebih jika dia menerima sebagai muridnya. Jika sudah menemukannya, maka murid wajib memuliakannya secara zahir dan batin.(Imam Al Gazali, “Risalah at-Tasawwuf”)
B. REFERENSI KEDUA dari Muhammad Zaki Ibrahim “Abjadiyyah At-Tashawuf Al-Islami”, judul terjemahan “Tasawwuf Salafi”, Penerbit Hikmah, Bandung, 2002
Seorang murid tidak dilarang untuk mempunyai lebih dari seorang syaikh (guru) untuk menambah pengetahuan dan wawasan keagamaan. Tetapi mereka melarang seorang murid mengumpulkan beberapa jalan (mursyid) menuju Allah Swt. sebagaimana seorang makmum dilarang untuk mengikuti dua imam sekaligus. Hal ini seperti juga seorang yang sakit dilarang untuk mencampur obat dari beberapa orang dokter.
Pendidikan berbeda dengan ilmu pengetahuan. Ilmu adalah sesuatu yang saling melengkapi, sedangkan suluk adalah tempat mata air yang berbeda-beda. Dalam suluk terdapat status kebapakan secara ruhani. Tidak mungkin seseorang mempunyai dua orang bapak, meski kecintaan kepada bapak tidak menjadi penghalang untuk mencintai paman atau bibi serta menghormati mereka.
Jika seorang murid, sebelum mencapai kesempurnaan-nya dalam suluk, ternyata sang syaikh meninggal dunia, maka boleh baginya—dalam kondisi seperti itu—mengambil syaikh lain sebagai pembimbingnya untuk menuntaskan perjalanannya. Begitu pula, jika ternyata syaikh yang dianggap dapat menunjukkan jalan baginya ternyata adalah seorang yang bodoh, atau melenceng dari agama, maka seorang murid harus mencari syaikh lain sebagai mursyidnya.
Seorang murid yang telah menuntaskan perjalanan dan telah mencapai status (maqam) tertentu dalam perjalanan ruhaninya, maka boleh baginya untuk menerima beberapa orang syaikh untuk tabaruk kepada mereka. Namun ia tetap tidak boleh meninggalkan tarikatnya yang telah menghantarkannya menuju derajat-derajat yang telah dilaluinya. Begitulah perjalanan para ulama sufi, baik dari golongan salaf maupun khalaf. Hal tersebut dapat dilihat dari fakta sejarah, di mana mereka mendapatkan banyak ijazah dari beberapa orang syaikh. (Muhammad Zaki Ibrahim “Abjadiyyah At-Tashawuf Al-Islami”, judul terjemahan “Tasawwuf Salafi”, Penerbit Hikmah, Bandung, 2002)
C. REFERENSI KETIGA dari Mejar (b) Abu Dzar, “Taqwa”, Penerbitan Minda Ikhwan, Selangor, 2005
Tetapi di sinilah ramai yang tidak faham termasuk alim ulama. Sesetengah mereka berkata, “Kalaulah kita sudah berguru di satu tempat, janganlah lagi kita berguru di tempat lain.”
Ini satu kesilapan dan fahaman yang salah. Sebenarnya guru mursyid sahaja yang tidak boleh ramai. Guru mursyid mesti seorang sahaja. Tetapi kalau muallim atau guru sumber ilmu, lebih ramai lebih baik kerana lebih banyak saluran untuk dapat ilmu. Kalau ada tiga puluh orang guru, ada tiga puluh saluran. Imam Ghazali r.h. ada 1000 orang gurunya. Guru pimpinan, guru mursyid, tempat rujuk dalam semua hal hanya seorang sahaja. Dalam sebarang hal mesti dirujuk kepadanya termasuklah dalam perkara yang harus. Walaupun perkara itu harus dalam syariat, tetapi untuk mendapat berkat mesti bertanya kepadanya. Lebih-lebih lagi kalaulah ia sudah jadi arahannya maka wajib ditaati.(Mejar (b) Abu Dzar, “Taqwa”, Penerbitan Minda Ikhwan, Selangor, 2005)
D. REFERENSI KEEMPAT dari Ajid Thohir, “Gerakan Politik Kaum Tarekat”, Pustaka Hidayah, Bandung, 2002
Keragaman aliran tarekat yang dimiliki beberapa ulama di Makkah sekitar abad ke-17 atau 18 M merupakan suatu pemandangan umum yang hampir lazim ditemukan. Sehingga satu orang ulama bisa menguasai berbagai metode tarekat, sekaligus bisa mengembangkannya dalam berbagai formulasi, sebagaimana Syaikh Ahmad Khathib Sambasi.
Dalam menyempurnakan formulasi tarekatnya, Syaikh Ahmad Khathlb Sambasi tampaknya masih menggunakan metode-metode tarekat lainnya, sebagaimana yang diakuinya dalam risalahnya yang ia namakan Fath al- ‘Arifin. la menyatakan sebagai berikut:
“Semula tarekat kami ini dibangun atas rangkain huruf “naqthujimin,” Maka barangsiapa tidak mendatangi kami dan mengambil dia (tarekat ini) pada kami, dia pasti menyesal.
Huruf “nun” bermakna tarekat Naqsyabandiyah
Huruf “qaf” bermakna tarekat Qadiriyah
Huruf “tha”‘ bermakna tarekat Anfasiyyah
Huruf “jim” bermakna tarekat al-Junaidiyyah
Huruf “mim” bermakna tarekat al-Muwafaqah.”
Kelima tarekat yang disebutkan di atas sebenarnya telah mendapat tempat dan porsi yang sama pentingnya dalam pengamalan Tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah, terutama bagi kalangan mursyid-mursyidnya. Seluruhnya memiliki kelebihan dalam menyempurnakan dan melengkapi metode spiritual, untuk mengarahkan agar setiap orang selalu ingat kepada Allah dan mendekatkan diri ke hadirat-Nya. Tetapi, mungkin karena akibat tekanan amalannya, terutama bagi tingkat pemula (mubtadi’in) lebih mementingkan pada zikir jahr dan zikir khafiy pada setiap selesai salat fardhu —yang keduanya merupakan inti ajaran Tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah—maka tarekat ini lebih mudah dinamai dengan Tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah, karena memang kedua metode zikir itu adalah formulasi dari Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah.
Pada Tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah, nama Qadiriyah didahulukan dari Naqsyabandiyah. Hal ini nampaknya didasarkan atas silsilah yang selalu digunakan Khathib Sambasi ketika mengajarkan tarekat ini kepada murid-muridnya. Karena Syaikh Syamsuddin, guru spiritual (mursyid) Khathib Sambasi, berasal dari kelompok Tarekat Qadiriyah, yang tentu akan disebutkan lebih dulu. Sehingga kemudian, murid-murid Khathib Sambasi pun mengembangkan Tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah di Indonesia dengan bersumber pada silsilah Tarekat Qadiriyah, bukan Tarekat Naqsyabandiyah.(Ajid Thohir, “Gerakan Politik Kaum Tarekat”, Pustaka Hidayah, Bandung, 2002)
II. RANGKUMAN:
1. Mursyid adalah guru pembimbing spiritual.
2. Syarat seorang syekh atau mursyid yang layak menjadi pengganti Rasulullah saw. haruslah orang yang alim. Akan tetapi, tidak setiap orang yang alim patut menduduki jabatan khalifah atau pengganti Rasulullah.
3 Tidak boleh seseorang memiliki lebih dari satu mursyid.
4. Guru mursyid hanya seorang, tetapi tak ada larangan untuk memiliki guru lain.
5. Seorang murid yang telah menuntaskan perjalanan dan telah mencapai status (maqam) tertentu dalam perjalanan ruhaninya, maka boleh baginya untuk menerima beberapa orang syaikh untuk tabarruk kepada mereka. Namun ia tetap tidak boleh meninggalkan tarikatnya yang telah menghantarkannya menuju derajat-derajat yang telah dilaluinya.
6. Syaikh Ahmad Khathib Sambasi adalah seseorang yang telah mencapai Maqam yang tinggi, sehingga beliau memiliki beberapa orang syaikh Namun ia tetap tidak meninggalkan tarikatnya yang telah
menghantarkannya menuju derajat-derajat yang telah dilaluinya, karena Syaikh Syamsuddin, guru spiritual Khathib Sambasi, berasal dari kelompok Tarekat Qadiriyah. Sehingga kemudian, murid-murid Khathib Sambasi pun mengembangkan Tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah di Indonesia dengan bersumber pada silsilah Tarekat Qadiriyah, bukan Tarekat Naqsyabandiyah.
III. LATAR BELAKANG
Di dalam pola pendidikan islam salafiyah (pola tradisional – jangan tertukar dengan istilah salafi wahabiyah), setiap murid yang telah menamatkan pangajarannya biasanya diberi ijazah. Saat pemberian ijazah dan juga pada saat penerimaan sebagai murid, sudah barang tentu berkaitan dengan bay’at (pelantikan, initiation). Hanya yang telah mendapatkan ijazah saja yang berhak untuk mengamalkan dan mengajarkannya kembali serta menisbatkan diri kepada perguruannya (catatan: dalam dunia pendidikan modern pun demikian, seseorang takan dijinkan praktek dokter tanpa ijazah dokter).
IV. HIPOTESIS TENTANG BAY’AT: (hipotesis pribadi penulis)
Syaikh Ahmad Khathib Sambasi memiliki lima ijazah tarekat, seperti yang telah disebutkan di atas, yaitu tarekat “naqthujimin”, sehingga tentu saja diberi bay’at (pelantikan, initiation), dari masing-masing tarekat. Meskipun demikian bukan berarti Syaikh Ahmad Khathlb Sambasi memiliki lima orang mursyid. Syaikh Ahmad Khathlb Sambasi hanya memiliki satu Mursyid yaitu Syaikh Syamsuddin. Syaikh Khathib Sambasi diizinkan mendapatkan lebih dari satu ijazah tarekat karena beliau telah mencapai maqam yang tinggi dalam perjalanan ruhaninya.
Syaikh Tajul Arifin mendapatkan bay’at dan ijazah dari Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani karena Syaikh Tajul Arifin telah mencapai maqam yang tinggi, ini bisa dilihat ketika Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani memuji bahwa Syaikh Tajul Arifin adalah salah seorang yang memiliki Nur Muhammad.
Dasar pemikiran hipotesis ini adalah:
“Keragaman aliran tarekat yang dimiliki beberapa ulama di Makkah sekitar abad ke-17 atau 18 M merupakan suatu pemandangan umum yang hampir lazim ditemukan. Sehingga satu orang ulama bisa menguasai berbagai metode tarekat, sekaligus bisa mengembangkannya dalam berbagai formulasi, sebagaimana Syaikh Ahmad Khathib Sambasi.” (Ajid Thohir, “Gerakan Politik Kaum Tarekat”, Pustaka Hidayah, Bandung, 2002)
“Seorang murid yang telah menuntaskan perjalanan dan telah mencapai status (maqam) tertentu dalam perjalanan ruhaninya, maka boleh baginya untuk menerima beberapa orang syaikh untuk tabaruk kepada mereka. Namun ia tetap tidak boleh meninggalkan tarikatnya yang telah menghantarkannya menuju derajat-derajat yang telah dilaluinya. Begitulah perjalanan para ulama sufi, baik dari golongan salaf maupun khalaf. Hal tersebut dapat dilihat dari fakta sejarah, di mana mereka mendapatkan banyak ijazah dari beberapa orang syaikh.” (Muhammad Zaki Ibrahim “Abjadiyyah At-Tashawuf Al-Islami”, judul terjemahan “Tasawwuf Salafi”, Penerbit Hikmah, Bandung, 2002)
V. KESIMPULAN :
Untuk sementara saya tidak membuat kesimpulan, karena saya merasa data yang ada masih belum cukup lengkap, yaitu belum mendapatkan data primer, sementara referensi hanyalah data sekunder Oleh karena itu kesimpulan sementara saya serahkan pada pembaca salikin sekalian, dengan beberapa catatan:
1. Mengutamakan husnudzon.
2. Pembahasan dengan ilmu, bukan dengan emosi sesaat.
3. Lebih baik diskusi secara tertutup dan hanya untuk intern.
4. Apapun kesimpulan pribadi para pembaca salikin sekalian, jangan dikaitkan dengan lembaga, apalagi untuk menyerang lembaga lain seperti yang dilakukan oleh tqn_ikhwan@yahoo.co.id, karena bukan wewenang siapapun untuk membuat pernyataan tentang apa yang terjadi antara dua orang waliyuloh kecuali mereka berdua atau orang yang diberi mandat.
Wallahu ‘alam
Akhir kata, penulis berdo’a agar Allah Swt memberikan petunjuk-Nya kepada kita semua
Kepada pelaku dan penyebar fitnah dan namimah secara langsung yaitu tqn_ikhwan@yahoo.co.id,
“Sungguh Allah Hakim yang seadil-adilnya” أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ
Kepada penyebar fitnah dan namimah secara tidak sengaja yaitu admin blog ini yang dijebak oleh perbuatan tak terpuji tqn_ikhwan@yahoo.co.id, semoga Allah memberikan ampunan-Nya.
Bila ada yang ingin berdiskusi dengan saya secara pribadi, silakan tanyakan alamat email saya kepada admin blog ini. admin blog boleh memberikannya secara tertutup.