Pancaroba di dunia film

Dunia ini sedang dalam masa pancaroba, entah itu sedang berubah menuju kebaikan atau menuju kehancuran mengingat tanda-tanda kiamat telah muncul. Berbagai keanehan telah melanda dunia ini, baik itu yang alamiah semacam perubahan cuaca atau orang-orang sering bilang “Gombal Warning” sampe ke masalah personal manusianya seperti pemilihan Obama sebagai presiden kulit hitam pertama Amerika, mode pakaian yang merujuk kembali ke tahun 60an, muncul music alternatif yang dinamain alternatif karena memang aneh, saking anehnya ampe ga termasuk ke dalam genre usik yang udah ada (atau genrenya dia ga diakuin ma label??), jenis rumah jadi musim yang namanya “Minimalis”, bukannya minimal ampe ga ada kursi, lemari, kaya anak kost loh ya. Tapi mungkin aja di masa depan akan semakin minimalis aja ampe akhirnya tren bikin rumah dalem gua seperti jaman nabi-nabi dulu. Dalam hal film juga rupanya telah terjadi evolusi, memang ga semua film, tapi ada beberapa genre film yang memutuskan mengambil konsep yang berbeda, apalagi film yang dah jelas cerita nya dan telah memiliki fans.
Yang akan gw bahas disini adalah masalah yang terakhir yang mana baru gw sadari sehabis nonton film james bond terbaru “Quantum of Solace”. Biasanya genre film yang mengalami perubahan ini adalah film action, dan perubahan ini mengambil konsep yang lebih ekstrim, baik dalam hal kekerasan, seks, maupun jalan cerita. Semua itu ditampilkan lebih vulgar, mungkin pihak produser inginkan penyegaran atas kejenuhan yang mereka rasakan, mereka khawatir kejenuhan itu dirasakan juga oleh para penikmat film. Ada 1 kata yang rupanya sedang tren di bidang film, “Humanisasi” . apa itu?? Akan gw jelasin di bawah ntar…
Gw ambil 2 contoh film aja, film Batman “The Dark Knight” ama film yang baru gw tonton “Quantum of Solace” . keduanya mengusung konsep perubahan yang sama, dan keduanya adalah film franchise yang telah memiliki sekuel, bahkan film bond saja sudah dihasilkan 22 film. Dengan demikian kita bisa lebih gampang perubahan apa yang terjadi dibandingkan dengan film terdahulunya.
Film Batman yang diperankan Christian Bale jika dibandingkan dengan Batman terdahulu jelas sangat kentara sekali perbedaannya, yang sekarang tampak lebih garang, lebih gelap, ga tampak komikal seperti film terdahulu, apalagi film the dark knight yang memang se gelap judulnya, dengan Vilain yang jauh lebih jahat dibanding senior-seniornya, disini kekerasan ditampilkan lebih terbuka dan apa adanya, baik yang dilakukan si joker maupun ama Batman nya sendiri. Adegan pukul-pukulan dah ga aneh lagi, melainkan adegan ancaman secara psikologis lebih terasa di fim ini, seperti saat joker mengancam dengan pisau terhunus di leher Rachel Dawson, penonton pun akan ikut merasakan apa yang dirasakan Rachel, coba bayangkan jika anak-anak yang menontonnya. Makanya film ini diberi rating R alias Restricted / terbatas. Ternyata pasaran menyambut positif akan perubahan ini, karcis pun laku habis di seluruh dunia, penonton rela mengantri, DVD banyak dibeli, bajakannya pun laku bak kacang goreng. Itu tandanya penonton suka.
Kemudian film kedua, yaitu Quantum of Solace. Adalah film kedua yang diperankan Daniel Craig yang memang didaulat oleh produser untuk membawa tema “perubahan” ini ke dalah roh james bond. Meskipun pada awalnya sempat ditentang oleh para Fans nya, bahkan dikatakan James Blonde (Karena dia pirang=blonde). Rupanya produser telah menunjukan bahwa pilihannya adalah tepat. Sejak film Casino Royale ampe sekarang, nuansa kekerasan telah merasuki James Bond, meskipun katanya di novel, bond yang asli emang sekeras itu. Dengan tampang yang lebih tegas muncul kesan keras dan darah dingin, membunuh tanpa penyesalan, bahkan tuxedo yang menjadi khas nya Bond tampil hanya sebagai hiasan saja. Coba bandingkan dengan film terdahulu, Sean Connery yang cool, berwibawa, aura playboynya muncul. Roger Moore yang funny, handsome, matang. George Lazenby yang berkelas, eksklusif. Timothy Dalton yang darah dingin dengan senyum yang hangat, Pierce Brosnan yang flamboyan abis. Memang ga ada yang se “kacau” Daniel Craig. Yang bisa menandingi, satu-satunya, hanya Timothy Dalton. Memang dia pernah bilang bahwa dia berusaha menginterpretasikan Bond yang ada di novelnya, hasilnya memang tampak dingin, kejam, tapi saat berhadapan dengan wanita, dia luruh dan senyum hangatnya segera terasa. Dia maen di 2 film, The Living Daylight tahun 1987 dan License To Kill tahun 1989. Tapi hasil yang didapat adalah jeblok!! Ga laku. Mungkin karena pesona Roger Moore yang masih melekat di benak penonton (maklum aja, Roger Moore maen di 7 film, 14 tahun bro..) ataukah tema kekerasan yang vulgar masih belum bisa diterima oleh penonton??
Kondisi masyarakat yang terbiasa akan kekerasan menjadi pembedanya, berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun masyarakan dicekoki dengan film maupun sinetron yang kental dengan kekerasan. Saat mereka jenuh dengan percntaan atau film yang lembek dan easy going muncullah film ini. Hasilnya?? Laku baget…pundi-pundi uang MGM selaku rumah produksi pun semakin penuh aja.
Jadi dengan demikian jelaslah, bahwa selera pasar sekarang adalah film yang lebih ekstrim, baik dalam cerita, karakter maupun unsur-unsur di dalamnya seperti percintaan, intrik, dan lain-lain. Jadi kalau anda disini ada yang berprofesi sebagai produser film. Mungkin hendaknya anda mempertimbangkan kenyataan ini. Kalau saja superman dimunculkan kembali, gw harap, mau mengusung tema yang sama. Biar lebih rame ajah.
Sekian pandangan dari sisi lain….

Categories: isi pikiran gw | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: