Daily Archives: 7 December 2008

Hemoptisis


Batasan dan Uraian

Ekpektorasi darah dari saluran pernapasan. Darah bervariasi dari dahak bercampur bercak / lapisan darah s/d batuk berisi darah saja.

Batuk darah masif yaitu: Batuk darah >100 mL s/d >600mL darah dalam 24 jam

Diagnosis

Anamnesis

· Batuk darah berwarna merah segar , bercampur busa.

· Riwayat batuk sebelumnya, dahak ( jumlah, bau, penampilan ), demam, sesak, riwayat penyakit paru, penurunan berat badan, nyeri dada, anoreksia.

Pemeriksaan Fisik

· Sumber perdarahan di orofaring & nasofaring tidak ada.

· Paru: Pleural Friction Rub, ronkhi basah atau kering.

· Jantung: tanda-tanda hipertensi pulmonal, mitral stenosis, gagal jantung.

Foto Thorax

Menentukan lesi paru (difus/lokal), jantung.

Laboratorium

· DPL, LED, ureum, kreatinin, urine lengkap, hemostasis ( aPTT) bila perlu.

· Sputum BTA langsung dan kultur.

· bronkoskopi : untuk menentukan lokasi sumber perdarahan dan diagnosa.

CT Scan toraks: menemukan bronkiektasis, malformasi AV

Angiografi untuk menentukan malformasi AV

Diagnosis Banding

Sumber Trakheobronkial

· Neoplasma (karsinoma bronko-genik, tumor metastasis, endo-bronkial dll).

· Bronkitis (akut dan kronik).

· Bronkiektasis

· Bronkiolitiasis

· Trauma

· Benda asing

Sumber Parenkim Paru

· Tuberkulosis paru

· Pneumonia

· Abses paru

· Mycetoma (fungus ball)

· Synd Goodpasture

· Granulomatosis Wegener

· Pneumonitis Lupus

· Sumber vaskular

· Pembengkakan tekanan vena pulmonal (MS)

· Emboli paru

· Malformasi AV

· Hematemesis

· Perdarahan nasofaring

· Koagulopati, pengobatan dengan trombolotik/ antikoagulan

Pemeriksaan Penunjang

Foto thoraks

Laboratorium

· DPL, LED, ureum kreatinin, urine lengkap

· Hemostasis bila perlu

· Pemeriksaan BTA, Kultur MOR dan pewarnaan gram

Bronkoskopi bila perlu

CT Scan thoraks bila perlu

Tatalaksana

Hemoptisis masif:

Tujuan tatalaksana: mempertahankan jalan napas, proteksi paru yang sehat, menghentikan perdarahan.

· Istirahat baring dengan kepala direndahkan dan tubuh miring ke sisi yang sakit

· Oksigen

· Infus, bila perlu tranfusi darah

· Medikamentosa : antibiotika, kodein, koreksi koagulopati

· Bronkoskopi : diagnostik dan terapeutik topikal ( bilas air es, instilasi epinefrin)

· Intubasi selektif pada bronkus, paru yang tidak berdarah (bila perlu)

Indikasi operasi pada pasien batuk darah masif:

1. Batuk darah ≥600cc/24jam, pada observasi tidak berhenti

2. Batuk darah 100-250cc/24jam Hb < 10g/dL, pada observasi tidak berhenti

3. Batuk darah 100-250cc/24jam Hb >10g/dL, pada observasi 48 jam tidak berhenti

Hemoptisis non masif:

Tujuan tatalaksana: mengendalikan penyakit dasar

Tatalaksana konservatif sesuai penyakit dasar

Komplikasi

Asfiksia

Atelektasis

Anemia


Advertisements
Categories: Kesehatan | 1 Comment

Ketoasidosis Diabetikum


Batasan dan Uraian

Kondisi dekompensasi metabolik akibat defisiensi insulin absolut atau relatif dan merupakan komplikasi akut diabetes mellitus yang serius. Gambaran klinis utama KAD adalah hiperglikemia, ketosis, dan asidosis metabolik.

Faktor pencetus

· Infeksi

· Infark miokard akut

· Pankreatitis akut

· Penggunaan obat golongan steriod

· Penghentian atau pengurangan dosis insulin

Diagnosis

Kilnis

· Keluhan poliuri, polidipsi

· Riwayat berhenti menyuntik insulin

· Demam infeksi

· Muntah

· Nyeri perut

· Kesadaran : CM – Delirium – Koma

· Pernapasan cepat dan dalam (Kussmaul)

· Dehidrasi (turgor kulit menurun, lidah dan bibir kering)

· Dapat disertai syok hipovolemik

Kriteria Diagnostik

· Kadar glukosa >250mg/dL

· PH<7,3

· HCO3 rendah

· Anion gap tinggi

· Keton serum positif atau ketonuria

Diagnosis Banding
· Ketosis diabetik

· Hiperglikemi hiperosmolar non ketotik / hyperglycaemia hyperosmolar state

· Ensefalopati uremikum / asidosis uremik

· Minum alkohol / ketosis alkoholik

· Ketosis hipoglikemia

· Ketosis starvasi

· Asidosis laktat

· Asidosis hiperkloremik

· Kelebihan salisailat

· Drug induced acidosis

· Ensefalopati karena infeksi

· Trauma kapitis


Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan cito

· Gula darah

· Elektrolit

· Ureum kreatinin

· Aseton darah

· Urine rutin

· Analisa gas darah

· EKG

Pemantauan

· Gula darah tiap jam

· Na+ K+ Cl tiap 6 jam selama 24 jam, selanjutnya sesuai keadaan

· Analisa gas darah bila PH ,7 saat masuk (diperiksa setiap 6 jam s/d PH > 7,1. selanjutnya setiap hari sampai stabil)

· Pemeriksaan lain (sesuai indikasi)

· Kultur darah

· Kultur urine

· Kultur pus

Tatalaksana

Akses IV 2 jalur salah satunya dipasang 3way

ü Cairan

NaCl 0,9% diberikan ± 1-2 liter pada 1 jam pertama. Lalu ± 1 L pada jam kedua, lalu ±0,5 L pada jam ketiga dan keempat. Dan ±0.25L pada jam kelima dan keenam, sseanjutnya sesuai kebutuhan.

Jumlah cairan yang diberikan dalam 15 jam sekitar 5 L

Jika Na+ > 155mEq/L, ganti cairan dengan NaCl 0.45%

Jika GD < 200 mg/dL, ganti cairan dengan dextrosa 5%

ü Insulin (Regular Insulin)

Diberikan setelah 2 jam rehidrasi cairan

RI bolus 180mU/kgBB dilanjutkan dengan

RI drip 90mU/kgBB/jam dalam NaCl 0,9%

Jika GD kurang dari 200mg/dL kecepatan dikurangi (RI drip 45mU/kgBB/jam dalam NaCl 0,9%)

Jika GD stabil 200-3—mg/dL selama 12 jam, RI drip 1-2 U/jam IV, disertai dengan sliding scale setiap 6 jam:

GD (mg/dL)

RI (unit subkutan)

<200

200-250

250-300

300-350

>350

0

5

10

15

20

Jika kadar GD ada yang <100 mg/dL, drip RI dihentikan

Setelah sliding scale tiap 6 jam, dapat diperhitungkan kebutuhan insulin sehari, dibagi dalam 3 dosis sehari subkutan, sebelum makan

ü Kalium

Drip KCl dimulai bersamaan dengan drip RI , dengan dosis 50 mEq/6jam. Syarat pemberian kalium: tidak ada gagal ginjal, tidak ditemukan gelombang T yang lancip dan tinggi pada EKG dan jumlah urine cukup adekuat.

Bila kadar K+ pada pemeriksaan elektrolit:

<3,5 drip KCl 75 mEq/6jam

3,5 – 4,5 drip KCl 50mEq/6jam

4,5 – 6,0 drip KCl 20mEq/6jam

>6 drip di stop

Bila sudah sadar pasien dberikan K+ oral selama seminggu

ü Bikarbonat

Drip 100 mEq bila PH <7 disertai KCl 26 mEq drip

Drip 50 mEq bil PH 7,0 – 7,1 disertai KCl 13 mEq drip

Juga diberikan pada asidosis laktat dan hiperglikemi yang mengancam

ü Tatalaksana Umum

· O2 bila PO2 < 80 mmHg

· Antibiotika adekuat

· Heparin: bila ada DIC atau hiperosmolar (>360 mOsm/L)

· Tatalaksana disesuaikan dengan pemantauan klinis

· Tekanan darah, frekuensi nadi, frekuensi pernapasan, temperatur setiap jam

· Kesadaran tiap jam

· Keadaan hidrasi tiap jam

· Produksi urin tiap jam

· Cairan infus yang masuk tiap jam

Komplikasi

· Syok hipovolemik

· Edema paru

· Hipertrigliseridemia

· Infark miokard akut

· Hipoglikemia

· Hipokalemia

· Hipokloremia

· Edema otak

· Hipokalsemia

Categories: Kesehatan | Leave a comment

Hipoglikemia


Batasan dan Uraian

Kadar glukosa darah < 60mg/dL, atau kadar glukosa darah < 80 mg/dL dengan gejala klinis.

Hipoglikemia pada DM terjadi karena:

1. Kelebihan obat / dosis obat: terutama insulin, atau obat hipoglikemik oral

2. Kebutuhan tubuh akan insulin relatif menurun: gagal ginjal kronik, persalinan

3. Asupan makanan tidak adekuat: jumlah kalori atau waktu makan tidak tepat

4. Kegiatan jasmani berlebihan

Diagnosis

ü Stadium parasimpatis: lapar, mual, tekanan darah turun.

ü Stadium gangguan otak ringan: lemah, lesu, sulit bicara, kesulitan menghitung sementara

ü Stadium simpatis: keringat dingin pada muka, bibir atau tangan gemetar

ü Stadium gangguan otak berat: tidak sadar dengan atau tanpa kejang.

Anamnesis

ü Penggunaan preparat insulin atau anti hiperglikemik oral, dosis terakhir , waktu pemakaian terakhir, perubahan dosis

ü Waktu makan terakhir, jumlah asupan gizi

ü Riwayat dan jenis pengobatan dosis sebelumnya

ü Lama menderita DM dan komplikasi DM

ü Penyakit penyerta: ginjal, hati dll

ü Penggunaan obat sistemik lainnya: penghambat adrenergik beta dll

Pemeriksaan Fisik

ü Pucat, diaphoresis

ü Tekanan darah

ü Frekuensi denyut jantung

ü Penurunan kesadaran

ü Defisit neurologis fokal transien

Trias Whipple untuk hipoglikemia secara umum

1. Gejala yang konsisten dengan hipoglikemia

2. Kadar glukosa plasma yang rendah

3. Gejala mereda setelah kadar glukosa plasma meningkat

Diagnosis Banding


1. Obat:

a. (Sering) : insulin

b. (Kadang) : kinin, pentamidine

c. (Jarang) : salisilat, sulfonamid

2. Hiperinsulinisme endogen:

a. Insulinoma

b. Kelainan sel beta pankreas

c. Sekretogogue ( sulfonamid)

d. Autoimun

e. Sekresi insulin ektopik

3. Penyakit kritis:

a. Gagal hati

b. Gagal jantung

c. Gagal ginjal

d. Sepsis

e. Starvasi dan inanisi

4. Defisiensi endokrin:

a. Kortisol, GH

b. Glukagon, epinefrin

5. Tumor non sel beta:

a. Sarkoma

b. Tumor adrenokortikal, hepatoma

c. Leukemia, limfoma,melanoma

6. Pasca prandial:

a. Reaktif (setelah operasi gaster)

b. Diinduksi dengan alkohol


Pemeriksaan Penunjang

ü Kadar glukosa darah

ü Tes fungsi ginjal

ü Tes fungis hati

ü C-peptida


Tatalaksana

Stadium sadar

1. Berikan gula murni 30gram (2 sendok makan) atau sirop / permengula murni (bukan pemanis pengganti gula atau gula diet / gula diabetes) dan makanan yang mengandung karbohidrat

2. Stop obat hipoglikemik sementara

3. Pantau GDS tiap 1-2 jam

4. Pertahankan GD sekitar 200mg/dL

5. Cari penyebab

Stadium lanjut (koma hipoglikemi atau tidak sadar + curiga hipoglikemia)

1. Berikan larutan dekstrose 40% sebanyak 2 flakon ( setara dengan 50mL) bolus intravena

2. Diberikan cairan dekstrose 10% per infus, 6 jam, kolf

3. Periksa gd sewaktu kalau memungkinkan dengan glukometer

a. Bila GDS <50mg/dL , bolus dekstrose 40% 50mL IV

b. Bila GDS <100mg/dL, bolus dekstrose 40% 25mL IV

4. Periksa GDS tiap 1 jam setelah pemberian dekstrose 40%

a. Bila GDS < 50mg/dL, bolus dekstrose 40% 50mL IV

b. Bila GDS <100mg/dL, bolus dekstrose 40% 25mL IV

c. Bila GDS 100-200 mg/dL, tanpa bolus dekstrose 40%

d. Bila GDS > 200mg/dL pertimbangkan menurunkan drip dekstrosa 10%

5. Bila GDS > 100mg/dL sebanyak 3kali berturut-turut, pemantauan GDS setiap 2 jam, dengan protokol sesuai di atas. Bila GDS > 200 mg/dL pertimbangkan mengganti dekstrosa 10% dengan NaCl 0,9%

6. Bila GDS > 100mg/dL sebanyak 3 kali berturut –turut, pemantauan GDS setiap 4 jam dengan protokol sesuai di atas.

7. Bila GDS > 100mg/dL sebanyak 3 kali berturut –turut, sliding scale setiap 6 jam

GD (mg/dL)

RI (unit subkuran)

<200

200-250

250-300

300-350

>350

0

5

10

15

20

Bila hipoglikemia belum teratasi, pertimbangkan pemberian antagonis insulin seperti adrenalin, kortison dosis tinggi, atau glukagon 0,5 – 1 mg IV / IM (bila penyebabnya insulin)

Bila pasien belum sadar, GDs sekitar 200, hidrokortison 100mg per 4 jam selama 12 jam atau deksametason 10mg IV bolus dilanjutkan 2 mg tiap 6 jam dan manitol 1,5-2 gram / kg BBIV setiap 6 – 8 jam. Dicar penyebab lain kesadaran menurun.

Categories: Kesehatan | 1 Comment

Create a free website or blog at WordPress.com.