Daily Archives: 31 December 2008

kesalahan persepsi di RS

Lima salah persepsi di rumah sakit adalah:

1. Mengira semua dokter bertugas mengobati

2. Mengira bagian besar biaya rumah sakit adalah untuk dokter.

3. Mengira adanya perbedaan kualitas layanan dari kelas rawatan

4. Mengira biaya mahal sama dengan kualitas pengobatan

5. Mengira rumah sakit pemerintah lebih murah

Sombong kali dokter itu!

Tidak semua dokter di rumah sakit bekerja mengobati pasien.

Dokter di rumah sakit

Dokter di rumah sakit

Bagan ini, memperlihatkan pasien dan empat orang dokter yaitu dr Ali, dr Slamet, dr Krisna dan dr Amir. Amanah pasienlah yang menempatkan mereka di dalam tiga habitat yaitu pelayanan, penunjang ataupun administrasi.

pelayanan dan lain-lain

pelayanan dan lain-lain

Dr Ali, yang Anda percayai untuk melakukan pengobatan adalah orang pelayanan sebagaimana dr Krisna, dokter yang dirujuk oleh dr Ali untuk ikut mengobati dan Anda setujui.

Dr Slamet, ahli ronsen, adalah orang penunjang. Ia melakukan ronsen atas permintaan dr Ali,.dengan instruksi yang jelas seperti membuat foto dada. Bila hasilnya meragukan, dr Ali berhak mengirim Anda ke fasilitas ronsen yang lain.(lihat gambar)

Dr Amir, orang administrasi, tidak mendapat amanah pengobatan. Anda hanya menemuinya karena masalah diluar hubungan dokter-pasien seperti kekurangan dana.

Kewenangan penerima amanah diikuti oleh tanggung jawab yang seimbang seperti halnya dengan kapten kapal, yang terjun penghabisan ke laut atau tenggelam bersama kapalnya.

Namun, Rumah Sakit menjadikan dokter seorang pemain dalam suatu tim pengobatan. Ia tidak perlu mencetak resep, meramu obat, menyuntik, membeli alat kesehatan, memasang infus ataupun mengompres pasien. Kewenangannya terbatas pada datang, melihat, memeriksa, memberikan instruksi ataupun resep dan melakukan tindakan medis.

Tidak semua dokter yang mengobati mempunyai jadwal tetap.

Di Rumah Sakit dokter terdiri dari dokter tetap dan dokter tamu. Dokter tetap, adalah pegawai Rumah Sakit dengan gaji tetap dan berbagai jaminan hidup. Mereka mempunyai jadwal jam praktek yang tetap sehingga mudah dihubungi.

Dokter tamu, bukanlah pegawai Rumah Sakit. Mereka yang mendapat jam praktek, bisa anda temui pada jam tersebut, sedangkan yang tidak, dapat ditemui dengan perjanjian (on call).

Tidak semua dokter mengobati semua pasien

Pasien diobati oleh dokter sesuai dengan kompetensinya yang dapat ditanyakan di bagian informasi.

sumber : http://www.suaradokter.com/2008/12/lima-salah-persepsi-di-rumah-sakit-1/#more-403

Advertisements
Categories: Kesehatan | Leave a comment

Kompetensi dokter

Tumor Hidung

Pasien Pribadi: Tumor Hidung

Kemanakah ia akan dirujuk oleh dokter Puskesmas?

Melihat letak tumornya ia bisa dirujuk ke dokter ahli Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT); bila mengira penyakit kanker maka ke dokter ahli bedah konsultan onkologi; namun bila sepertinya non-operable mungkin dirujuk ke dokter ahli penyakit dalam konsultan hemato-onkologi untuk kemoterapi atau dokter ahli radiologi konsultan onkologi untuk radioterapi.

Tumor Pipi

Pasien Pribadi: Tumor Pipi

Kemana pula ia akan dikirim oleh dokter Puskesmas?

Bila diagnosa dokter itu adalah abses (bisul) pasien akan dikirim ke dokter ahli bedah umum; jika kanker, ke dokter ahli bedah konsultan onkologi; bila sepertinya memerlukan rekonstruksi, ke dokter ahli bedah plastik; bila asalnya sakit gigi, ke dokter gigi ahli bedah mulut; bila kanker dan sepertinya perlu kemoterapi, ke dokter ahli penyakit dalam konsultan hemato-onkologi; ataupun bila perlu disinar akan ke dokter ahli radiologi konsultan onkologi.

Dokter Puskesmas akan merujuk pasien ke spesialis yang kompeten sesuai dengan diagnosanya. Hal itu karena kompetensi dokter dan rumah sakit adalah suatu cara untuk memperoleh hak atas pelayanan medis yang bermutu sesuai dengan standar profesi kedokteran seperti yang disebutkan dalam Surat Edaran Direktorat Jenderal Pelayanan Medik (Ditjen Yanmed) Depkes RI No YM.02.04.3.5.2504.

Kompetensi adalah wewenang yang diberikan kepada seorang ahli untuk bekerja dalam bidang keahliannya. Bagi dokter, hal itu diatur dalam Undang-Undang.

Undang-Undang Kesehatan No. 23 Tahun 1992 pasal 32 (4) yang berbunyi: ”Pelaksanaan pengobatan dan atau keperawatan berdasarkan ilmu kedokteran atau ilmu keperawatan hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu.”

Secara hukum, di Indonesia kompetensi ditentukan dalam Surat Izin Praktik (SIP) yang dikeluarkan oleh Pemerintah cq Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten. SIP mengizinkan seorang dokter tertentu untuk melakukan praktik dalam bidang yang tertentu. Menurut UU 29/2004 tentang Praktik Kedokteran, untuk memeproleh SIP seorang dokter harus memiliki:

  1. Surat Tanda Registrasi (STR) yang dikeluarkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia;
  2. Mempunyai tempat praktek dan;
  3. Memiliki rekomendasi dari organisasi profesi.

Untuk memperoleh STR dokter harus:

  • memiliki ijazah dokter;
  • surat pernyataan telah mengucapkan sumpah dokter;
  • memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental;
  • memiliki sertifikat kompetensi;
  • membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi.

Dengan kata lain kompetensi dokter yang memiliki SIP dijamin oleh Fakultas Kedokteran yang mendidiknya dalam bentuk ijazah/ sertifikat keahlian dan rekomendasi organisasi profesi yang bersangkutan.

Namun bagaimanakah bila Anda datang sendiri ?

Raga Spesialis (kec. Gigi)

Raga Spesialis (kec. Gigi)

Bingung karena begitu banyak spesialisasi yang tersedia.

Sesungguhnya kendala kerancuan kompetensi merupakan resiko kemajuan ilmu kedokteran. Pada awalnya dokter umum dididik di Fakultas Kedokteran selama 5 – 6 tahun. Dokter ini seorang generalis. Ia bisa melakukan semua tindakan kedokteran. Kecakapan dan pengetahuannya luas tetapi tidak mendalam.

Dokter spesialis dididik selama 3 – 4 tahun. Bidang pengetahuannya lebih khusus. Ia tidak lagi generalis tapi memusatkan pengetahuannya pada satu bidang. Pada dasarnya spesialisasi dokter terdiri atas bidang yaitu diagnostik, terapi dan rehabilitasi.

Diagnostik yaitu spesialisasi yang membantu dokter untuk melihat gejala –gejala penyakit secara objektif seperti Spesialis Radiologi, yang melakukan pemeriksaan ronsen; Patologi Klinik, yang melakukan pemeriksaan laboratorium; Patologi, yang melakukan pemeriksaan jaringan tubuh pasien. Bidang Rehabilitasi adalah dokter yang melakukan tindakan pemulihan jasmani dan rohani.

Bidang terapi adalah yang bertanggung jawab langsung atas pengobatan Anda. Pada mulanya ia terbagi atas dua cara pengobatan yaitu Bedah dan Non Bedah. Bedah melakukan pengobatan terhadap suatu kelainan lokal misalnya tumor atau benjolan dengan menggunakan teknologi yaitu alat operasi.

Pada awalnya Bedah terbagi menjadi Bedah Umum dan Obstestri Ginekologi. Kemudian mereka membagi diri pula menurut alat tubuh seperti: Ahli Bedah Otak, Jantung, Digestif dlsb. Mereka disebut konsultan yaitu dokter spesialis yang dididik dalam bidang tertentu dalam spesialisasinya, seperti konsultan hemato-onkologi dari spesialis penyakit dalam. Kecakapan dan pengetahuannya sangat sempit tetapi lebih mendalam.

Non-Bedah mengobati penyakit sistemik atau umum seperti malaria dengan memberikan ramuan obat. Selanjutnya non – Bedah membagi diri pula dalam jiwa dan jasmani. Jiwa dipelajari oleh Spesialis Kesehatan Jiwa atau Psikiakter. Jasmani membagi diri pula menurut golongan umur menjadi Spesialis Penyakit Dalam atau Internis dan Spesialis Kesehatan Anak atau Pediakter. Mereka membagi diri pula menurut sistem tubuh seperti Ahli Penyakit Dalam Kardio Vaskuler, Hematologi, Syaraf dan lain sebagainya.

Selain itu muncul pula Spesialis Anestesi, Kanker, Trauma, Endokrin dan lainnya.

Nasehat saya adalah:

  1. Berobatlah dulu ke dokter umum. Mereka melihat penyakit seutuhnya sedangkan spesialis hanya bidangnya.
  2. Kembalilah ke dokter umum itu setelah berkonsultasi dengan dokter spesialis. Hal ini akan menambah masukan dokter umum, memperbaiki diagnosa hingga bila perlu, ia dapat merujuk Anda ke spesialis lain.

sumber : dr. Bahar Azwar Sp.B-Onk

Categories: Kesehatan | Leave a comment

Rumah Sakit Pendidikan

Jangan kesitu Mbak, yang mengobatinya dokter yang sedang belajar!

Rumah sakit yang dimaksud oleh Mbak ini adalah RS Pendidikan (RS Dik).

RS Dik adalah keniscayaan dalam pengobatan oleh dokter. Merekalah yang melakukan riset, mencetak dokter dan semua profesi yang terkait, menggelar pendidikan berkelanjutan untuk praktisi kesehatan, menyediakan informasi kesehatan dan menerima rujukan<!–[if supportFields]> XE "rujukan" < ![endif]–><!–[if supportFields]>< ![endif]–> kasus sukar.

Di RS Dik, ada empat kelompok dokter, yaitu sarjana kedokteran (Sked), residen, trainee dan konsulen. SKed<!–[if supportFields]> XE "SKed" < ![endif]–><!–[if supportFields]>< ![endif]–> berotasi melewati setiap bagian seperti Bedah dan Penyakit Dalam. Residen, dokter yang magang untuk menjadi spesialis akan berotasi <!–[if supportFields]> XE "Residen" < ![endif]–><!–[if supportFields]>< ![endif]–>melewati setiap subspesialisasi dari spesialisasi tersebut. Trainee, dokter spesialis yang magang untuk menjadi superspesialis<!–[if supportFields]> XE "Trainee" < ![endif]–><!–[if supportFields]>< ![endif]–> hanya berada di superspesialisasi tersebut. Konsulen adalah superspesialis yang menjadi tempat bertanya di superspesialisasi tersebut. Jadi, di suatu poliklinik RSDik lazim ditemui: konsulen<!–[if supportFields]> XE "konsulen" < ![endif]–><!–[if supportFields]>< ![endif]–>, trainee<!–[if supportFields]> XE "trainee" < ![endif]–><!–[if supportFields]>< ![endif]–>, residen<!–[if supportFields]> XE "residen" < ![endif]–><!–[if supportFields]>< ![endif]–> dan SKed.

Suasana bekerja secara tim<!–[if supportFields]> XE "tim" < ![endif]–><!–[if supportFields]>< ![endif]–> sudah terbina sejak satu kelompok Sked mendiskusikan penyakit yang Anda derita. Kesimpulan mereka dibawa ke atas untuk didiskusikan bersama di tahap residen. Kesimpulan para residen dibawa dan dibicarakan oleh kelompok trainee untuk diputus oleh konsulen.

Belajar tanpa pasien akan membahayakan masyarakat. Sir William Osler, satu dari beberapa bapak kedokteran mengatakan: ” To study medicine without books is to sail an uncharted sea, while to study medicine only from books is not to go to sea at all ‘ (Mempelajari kedokteran tanpa buku adalah ibarat berlayar tanpa peta tetapi sama sekali tidak berlayar dengan hanya membaca buku). Tapi apakah konsulen berhenti belajar? Tidak karena seperti kata Osler, kedokteran adalah studi seumur hidup.

Manfaat bagi pasien yang berobat ke RS Dik jelas.

Pengobatan secara tim akan meniadakan penggunaan obat yang tumpang tindih dan pemeriksaan yang mubazir. Tanpa tim, setiap dokter spesialis akan memberikan resep yang mungkin sama ataupun bertentangan dengan yang lainnya. Mudaratnya juga jelas tetapi terbatas pada kasus sederhana. Proses pengobatan di RS Dik boros waktu dibandingkan dengan RS non-Dik. Bagi kasus sukar tidak ada perbedaan waktu, malah rujukan ke RS Dik mewarnai RS non-dik.

Salah persepsi ini terjadi karena adanya pendidikan tidak dijelaskan dalam SPTM atau formulir RS lainnya seperti di negara maju.

hal pendidikan

hal pendidikan

Bila kita melihat format “Authorization of Medical care and Treatment” (Otorisasi Perawatan dan Pengobatan) yang kira-kira sama dengan SPTM, dari The George Wahington University’s Hospital pada butir 2 tertulis ”Because George Wahington University’s Hospital is a teaching hospital, I understand that my health care team will be made up of hospital personnel and medical student in addition to my attending physician and his/her assistants and designees. Hospital personnel include, but are not limited to nurse, technicians, intern, resident and fellows. (Karena George Wahington University’s Hospital adalah RS Pendidikan maka saya mengerti bahwa tim yang mengobati saya terdiri dari personil RS dan mahasiswa selain dokter saya dan asistennya. Personil RS termasuk dan tidak terbatas pada perawat, teknisi, dokter lainnya dan dokter tamu).

Penegasan pasien

Penegasan pasien

Selain itu yang menarik pula adalah pembelajaran tidak langsung kepada masyarakat bahwa yang ditawarkan itu semata usaha dan bukan hasil. Hal ini disebut dalam form “Patient’s request for procedure operation and treatment (Permintaan pasien untuk melakukan pembedahan dan pengobatan) dari The George Washington University Medical Center dalam pasal patient affirmation (penegasan pasien) yaitu: “ … I am also acknowledging that I know that the practice of anesthesiology, medicine and surgery is not an exact science and that no one has given me any promise or guarantees about the designated procedure/ operation/ treatment or its result.” (… Saya juga mengakui bahwa praktek kedokteran bukanlah ilmu pasti dan tidak seorangpun memberikan janji atau jaminan mengenai tindakan yang dijalankan ataupun keberhasilan…)

Maka diperlukan kejujuran untuk membunyikannya pendidikan dan tidak adanya janji keberhasilan dalam SPTM. Pasien menyadari bahwa mahasiswa pun berhak memeriksa mereka. Pasien menyadari bahwa asistenpun dapat ikut melakukan pembedahan. Tetapi semua keputusan akhir tetap berada di tangan konsulen. Dan pasien menyadari bahwa pengobatan ini hanyalah usaha.

Sumber gambar: Rakich, J.S. et al: Managing Health Services Organization, 3rd ed, Healyh Professions Services Press, Baltimore, 1993, p 156-157

Sumber artikel : dr.Bahar Azwar Sp.B-Onk

Categories: Kesehatan | Leave a comment

Blog at WordPress.com.