Kompetensi dokter

Tumor Hidung

Pasien Pribadi: Tumor Hidung

Kemanakah ia akan dirujuk oleh dokter Puskesmas?

Melihat letak tumornya ia bisa dirujuk ke dokter ahli Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT); bila mengira penyakit kanker maka ke dokter ahli bedah konsultan onkologi; namun bila sepertinya non-operable mungkin dirujuk ke dokter ahli penyakit dalam konsultan hemato-onkologi untuk kemoterapi atau dokter ahli radiologi konsultan onkologi untuk radioterapi.

Tumor Pipi

Pasien Pribadi: Tumor Pipi

Kemana pula ia akan dikirim oleh dokter Puskesmas?

Bila diagnosa dokter itu adalah abses (bisul) pasien akan dikirim ke dokter ahli bedah umum; jika kanker, ke dokter ahli bedah konsultan onkologi; bila sepertinya memerlukan rekonstruksi, ke dokter ahli bedah plastik; bila asalnya sakit gigi, ke dokter gigi ahli bedah mulut; bila kanker dan sepertinya perlu kemoterapi, ke dokter ahli penyakit dalam konsultan hemato-onkologi; ataupun bila perlu disinar akan ke dokter ahli radiologi konsultan onkologi.

Dokter Puskesmas akan merujuk pasien ke spesialis yang kompeten sesuai dengan diagnosanya. Hal itu karena kompetensi dokter dan rumah sakit adalah suatu cara untuk memperoleh hak atas pelayanan medis yang bermutu sesuai dengan standar profesi kedokteran seperti yang disebutkan dalam Surat Edaran Direktorat Jenderal Pelayanan Medik (Ditjen Yanmed) Depkes RI No YM.02.04.3.5.2504.

Kompetensi adalah wewenang yang diberikan kepada seorang ahli untuk bekerja dalam bidang keahliannya. Bagi dokter, hal itu diatur dalam Undang-Undang.

Undang-Undang Kesehatan No. 23 Tahun 1992 pasal 32 (4) yang berbunyi: ”Pelaksanaan pengobatan dan atau keperawatan berdasarkan ilmu kedokteran atau ilmu keperawatan hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu.”

Secara hukum, di Indonesia kompetensi ditentukan dalam Surat Izin Praktik (SIP) yang dikeluarkan oleh Pemerintah cq Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten. SIP mengizinkan seorang dokter tertentu untuk melakukan praktik dalam bidang yang tertentu. Menurut UU 29/2004 tentang Praktik Kedokteran, untuk memeproleh SIP seorang dokter harus memiliki:

  1. Surat Tanda Registrasi (STR) yang dikeluarkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia;
  2. Mempunyai tempat praktek dan;
  3. Memiliki rekomendasi dari organisasi profesi.

Untuk memperoleh STR dokter harus:

  • memiliki ijazah dokter;
  • surat pernyataan telah mengucapkan sumpah dokter;
  • memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental;
  • memiliki sertifikat kompetensi;
  • membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi.

Dengan kata lain kompetensi dokter yang memiliki SIP dijamin oleh Fakultas Kedokteran yang mendidiknya dalam bentuk ijazah/ sertifikat keahlian dan rekomendasi organisasi profesi yang bersangkutan.

Namun bagaimanakah bila Anda datang sendiri ?

Raga Spesialis (kec. Gigi)

Raga Spesialis (kec. Gigi)

Bingung karena begitu banyak spesialisasi yang tersedia.

Sesungguhnya kendala kerancuan kompetensi merupakan resiko kemajuan ilmu kedokteran. Pada awalnya dokter umum dididik di Fakultas Kedokteran selama 5 – 6 tahun. Dokter ini seorang generalis. Ia bisa melakukan semua tindakan kedokteran. Kecakapan dan pengetahuannya luas tetapi tidak mendalam.

Dokter spesialis dididik selama 3 – 4 tahun. Bidang pengetahuannya lebih khusus. Ia tidak lagi generalis tapi memusatkan pengetahuannya pada satu bidang. Pada dasarnya spesialisasi dokter terdiri atas bidang yaitu diagnostik, terapi dan rehabilitasi.

Diagnostik yaitu spesialisasi yang membantu dokter untuk melihat gejala –gejala penyakit secara objektif seperti Spesialis Radiologi, yang melakukan pemeriksaan ronsen; Patologi Klinik, yang melakukan pemeriksaan laboratorium; Patologi, yang melakukan pemeriksaan jaringan tubuh pasien. Bidang Rehabilitasi adalah dokter yang melakukan tindakan pemulihan jasmani dan rohani.

Bidang terapi adalah yang bertanggung jawab langsung atas pengobatan Anda. Pada mulanya ia terbagi atas dua cara pengobatan yaitu Bedah dan Non Bedah. Bedah melakukan pengobatan terhadap suatu kelainan lokal misalnya tumor atau benjolan dengan menggunakan teknologi yaitu alat operasi.

Pada awalnya Bedah terbagi menjadi Bedah Umum dan Obstestri Ginekologi. Kemudian mereka membagi diri pula menurut alat tubuh seperti: Ahli Bedah Otak, Jantung, Digestif dlsb. Mereka disebut konsultan yaitu dokter spesialis yang dididik dalam bidang tertentu dalam spesialisasinya, seperti konsultan hemato-onkologi dari spesialis penyakit dalam. Kecakapan dan pengetahuannya sangat sempit tetapi lebih mendalam.

Non-Bedah mengobati penyakit sistemik atau umum seperti malaria dengan memberikan ramuan obat. Selanjutnya non – Bedah membagi diri pula dalam jiwa dan jasmani. Jiwa dipelajari oleh Spesialis Kesehatan Jiwa atau Psikiakter. Jasmani membagi diri pula menurut golongan umur menjadi Spesialis Penyakit Dalam atau Internis dan Spesialis Kesehatan Anak atau Pediakter. Mereka membagi diri pula menurut sistem tubuh seperti Ahli Penyakit Dalam Kardio Vaskuler, Hematologi, Syaraf dan lain sebagainya.

Selain itu muncul pula Spesialis Anestesi, Kanker, Trauma, Endokrin dan lainnya.

Nasehat saya adalah:

  1. Berobatlah dulu ke dokter umum. Mereka melihat penyakit seutuhnya sedangkan spesialis hanya bidangnya.
  2. Kembalilah ke dokter umum itu setelah berkonsultasi dengan dokter spesialis. Hal ini akan menambah masukan dokter umum, memperbaiki diagnosa hingga bila perlu, ia dapat merujuk Anda ke spesialis lain.

sumber : dr. Bahar Azwar Sp.B-Onk

Categories: Kesehatan | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: