Rumah Sakit Pendidikan

Jangan kesitu Mbak, yang mengobatinya dokter yang sedang belajar!

Rumah sakit yang dimaksud oleh Mbak ini adalah RS Pendidikan (RS Dik).

RS Dik adalah keniscayaan dalam pengobatan oleh dokter. Merekalah yang melakukan riset, mencetak dokter dan semua profesi yang terkait, menggelar pendidikan berkelanjutan untuk praktisi kesehatan, menyediakan informasi kesehatan dan menerima rujukan<!–[if supportFields]> XE "rujukan" < ![endif]–><!–[if supportFields]>< ![endif]–> kasus sukar.

Di RS Dik, ada empat kelompok dokter, yaitu sarjana kedokteran (Sked), residen, trainee dan konsulen. SKed<!–[if supportFields]> XE "SKed" < ![endif]–><!–[if supportFields]>< ![endif]–> berotasi melewati setiap bagian seperti Bedah dan Penyakit Dalam. Residen, dokter yang magang untuk menjadi spesialis akan berotasi <!–[if supportFields]> XE "Residen" < ![endif]–><!–[if supportFields]>< ![endif]–>melewati setiap subspesialisasi dari spesialisasi tersebut. Trainee, dokter spesialis yang magang untuk menjadi superspesialis<!–[if supportFields]> XE "Trainee" < ![endif]–><!–[if supportFields]>< ![endif]–> hanya berada di superspesialisasi tersebut. Konsulen adalah superspesialis yang menjadi tempat bertanya di superspesialisasi tersebut. Jadi, di suatu poliklinik RSDik lazim ditemui: konsulen<!–[if supportFields]> XE "konsulen" < ![endif]–><!–[if supportFields]>< ![endif]–>, trainee<!–[if supportFields]> XE "trainee" < ![endif]–><!–[if supportFields]>< ![endif]–>, residen<!–[if supportFields]> XE "residen" < ![endif]–><!–[if supportFields]>< ![endif]–> dan SKed.

Suasana bekerja secara tim<!–[if supportFields]> XE "tim" < ![endif]–><!–[if supportFields]>< ![endif]–> sudah terbina sejak satu kelompok Sked mendiskusikan penyakit yang Anda derita. Kesimpulan mereka dibawa ke atas untuk didiskusikan bersama di tahap residen. Kesimpulan para residen dibawa dan dibicarakan oleh kelompok trainee untuk diputus oleh konsulen.

Belajar tanpa pasien akan membahayakan masyarakat. Sir William Osler, satu dari beberapa bapak kedokteran mengatakan: ” To study medicine without books is to sail an uncharted sea, while to study medicine only from books is not to go to sea at all ‘ (Mempelajari kedokteran tanpa buku adalah ibarat berlayar tanpa peta tetapi sama sekali tidak berlayar dengan hanya membaca buku). Tapi apakah konsulen berhenti belajar? Tidak karena seperti kata Osler, kedokteran adalah studi seumur hidup.

Manfaat bagi pasien yang berobat ke RS Dik jelas.

Pengobatan secara tim akan meniadakan penggunaan obat yang tumpang tindih dan pemeriksaan yang mubazir. Tanpa tim, setiap dokter spesialis akan memberikan resep yang mungkin sama ataupun bertentangan dengan yang lainnya. Mudaratnya juga jelas tetapi terbatas pada kasus sederhana. Proses pengobatan di RS Dik boros waktu dibandingkan dengan RS non-Dik. Bagi kasus sukar tidak ada perbedaan waktu, malah rujukan ke RS Dik mewarnai RS non-dik.

Salah persepsi ini terjadi karena adanya pendidikan tidak dijelaskan dalam SPTM atau formulir RS lainnya seperti di negara maju.

hal pendidikan

hal pendidikan

Bila kita melihat format “Authorization of Medical care and Treatment” (Otorisasi Perawatan dan Pengobatan) yang kira-kira sama dengan SPTM, dari The George Wahington University’s Hospital pada butir 2 tertulis ”Because George Wahington University’s Hospital is a teaching hospital, I understand that my health care team will be made up of hospital personnel and medical student in addition to my attending physician and his/her assistants and designees. Hospital personnel include, but are not limited to nurse, technicians, intern, resident and fellows. (Karena George Wahington University’s Hospital adalah RS Pendidikan maka saya mengerti bahwa tim yang mengobati saya terdiri dari personil RS dan mahasiswa selain dokter saya dan asistennya. Personil RS termasuk dan tidak terbatas pada perawat, teknisi, dokter lainnya dan dokter tamu).

Penegasan pasien

Penegasan pasien

Selain itu yang menarik pula adalah pembelajaran tidak langsung kepada masyarakat bahwa yang ditawarkan itu semata usaha dan bukan hasil. Hal ini disebut dalam form “Patient’s request for procedure operation and treatment (Permintaan pasien untuk melakukan pembedahan dan pengobatan) dari The George Washington University Medical Center dalam pasal patient affirmation (penegasan pasien) yaitu: “ … I am also acknowledging that I know that the practice of anesthesiology, medicine and surgery is not an exact science and that no one has given me any promise or guarantees about the designated procedure/ operation/ treatment or its result.” (… Saya juga mengakui bahwa praktek kedokteran bukanlah ilmu pasti dan tidak seorangpun memberikan janji atau jaminan mengenai tindakan yang dijalankan ataupun keberhasilan…)

Maka diperlukan kejujuran untuk membunyikannya pendidikan dan tidak adanya janji keberhasilan dalam SPTM. Pasien menyadari bahwa mahasiswa pun berhak memeriksa mereka. Pasien menyadari bahwa asistenpun dapat ikut melakukan pembedahan. Tetapi semua keputusan akhir tetap berada di tangan konsulen. Dan pasien menyadari bahwa pengobatan ini hanyalah usaha.

Sumber gambar: Rakich, J.S. et al: Managing Health Services Organization, 3rd ed, Healyh Professions Services Press, Baltimore, 1993, p 156-157

Sumber artikel : dr.Bahar Azwar Sp.B-Onk

Categories: Kesehatan | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: