Gangguan Tidur dan Nyeri Kepala

Tidur adalah suatu fenomena dasar yang penting dari kehidupan. Kira-kira sepertiga kehidupan manusia dijalankan dengan tidur. Keluhan tidur merupakan hal yang dapat terjadi pada semua orang. Ada beberapa macam klasifikasi gangguan tidur. Klasifikasi menurut American Sleep Disorder Association (ASDA) dikenal sebagai The International Classification of Sleep Disorders (ICSD) terbagi 3 golongan besar : Dissomnia, Parasomnia dan Gangguan Tidur yang berhubungan dengan Kelainan Medik/Psikiatrik.

Pada klasifikasi menurut DSM IV, dissomnia dan parasomnia dimasukan dalam klasifikasi gangguan tidur primer. Yang termasuk dalam dissomnia antara lain insomnia primer, hipersomnia primer, narkolepsi, kelainan tidur yang berhubungan dengan pernafasan, gangguan sirkadian/ritme tidur, dan dissomnia tak spesifik. Sedangkan parasomnia, termasuk didalamnya antara lain : nightmare disorder, sleep terror disorder, sleepwalking disorder (somnabulisme), parasomnia tak spesifik (seperti bruxisme, tidur REM dengan gangguan perilaku, sleep talking, gangguan ritme gerakan, kelumpuhan tidur. Keluhan tidur umumnya berupa waktu tidur yang kurang, mudah terbangun malam hari, bangun pagi lebih awal, rasa mengantuk sepanjang hari dan sering tertidur sejenak.

Manifestasi dari beragam gangguan tidur diatas diantaranya berupa nyeri kepala. Kendati masih menjadi hal masih diperdebatkan, nyeri kepala pada gangguan tidur diduga disebabkan keadaan hipoksemia saat tidur yang menyebabkan melebarnya pembuluh darah otak sehingga menmbulkan sensasi nyeri kepala saat pagi hari. Salalh satu varian gangguan tidur yang sering menyebabkan nyeri kepala adalah gangguan tidur yang terkait pernafasan yaitu obstructive sleep apnea (OSA).

Gangguan tidur ini sudah disebut oleh Charles Dickens dalam salah satu tulisannya pada tahun 1836, salah satu tokoh dalam novel The Posthumous Papers of the Pickwick Club mempunyai kebiasaan mendengkur dan mudah tertidur saat siang hari. Sedangkan dalam dunia kedokteran, Broadbent pada tahun 1877 pertama kali melaporkan gangguan tidur tersebut yang ditandai rasa kantuk berlebih saat siang hari. Namun demikian perkembangan dunia kedokteran dalam bidang kesehatan tidur tersebut berkembang lambat. Bahkan diagnosis apnea tidur dengan menggunakan polisomnografi baru dilaporkan tahun 1965 di Jerman.

Prevalensi OSA sekitar 0,3-7,5% pada populasi, namun demikian di Amerika kasus yang tidak terdiagnosis mencapai 82-93% pada kelompok usia dewasa muda. Bahkan sekitar 26% populasi mempunyai resiko OSA, terutama pada kelompok umur 30-49 tahun (25%) dan 50-64 tahun (33%). Pria lebih sering mengalami OSA dibandingkan wanita (25% : 10%), namun demikian pasca menopause perbandingan tersebut menjadi sama. Faktor resiko lain diantaranya obesitas, lingkar leher berlebih, abnormalitas kraniofasial, hipotiroid dan akromegali. OSA terjadi akibat tertutupnya pharing secara total maupun parsial sehingga tubuh akan berusaha untuk meningkatkan aliran udara pernafasan yang melibatkan sangkar iga dan otot abdomen. Kriteria diagnosis apnea tidur berdasarkan Apnea-Hypopnea Index (AHI), dalam 1 jam tidur terdapat minimal 5 kali atau lebih periode apnea atau hipopnea serta adanya sekurangnya salah satu keluhan seperti mendengkur, tidur gelisah, nyeri kepala pagi dan kantuk berlebih saat siang. American Academy of Sleep Medicine membuat derajat OSA sebagai berikut; derajat ringan (AHI 5-15), sedang (AHI 16-30) dan berat (AHI > 30). Apnea merupakan periode henti nafas yang lebih dari 10 detik sedangkan hipopnea ditandai dengan penurunan aliran udara nafas hingga 50% atau penurunan saturasi oksigen hingga 4%.

Secara garis besar, nyeri kepala dibagi 2; nyeri kepala primer dan sekunder. Nyeri kepala yang disebabkan bermacam gangguan yang disebabkan penyebab lain seperti infeksi,tumor, trauma kepala dll disebut sebagai nyeri kepala sekunder. Sedangkan nyeri kepala primer lebih disebabkan kerena terlibatnya organ peka nyeri dalam kepala yang menyebabkan sensasi nyeri. Organ dalam kepala yang peka nyeri terdiri dari selapit otak, pembuluh darah, saraf otak, sebagian lapisan tengkorak. Pada nyeri kepala yang disebabkan gangguan tidur,disebabkan karena akumulasi zat karbondioksida saat tidur yang menyebabkan melebarnya pembuluh darah otak. Sensasi inilah yang menyebabkan sensasi nyeri kepala.

Pengobatan yang dapat dilakukan selain dengan obat-obatan,perlu juga dinilai derajat gangguan tidur yang terjadi sehingga berbagai modalitas lain yang bertujuan memperbaiki kualitas tidur seseorang menjadi perhatian dalam pengobtannya.

Pengobatan nonmedikamentosa penting didahulukan pada gangguan tidur adalah dengan melatih pasien mengubah pola hidup, pola tidur yang sehat. Jenis terapi nonmedikamentosa yang dikenal antara lain:

  1. Tidur sehat universal. Dalam hal ini melatih pasien untuk memiliki kebiasaan tidur yang sehat, teratur. Ruangan tidur harus tenang, gelap (saat malam), hangat, menghindari kebiasaan berbaring sebelum waktu tidur, menghindari aktivitas berlebihan sebelum tidur, jangan makan makanan kecil sebelum lapar atau jam makan, jangan nonton televisi di kamar tidur, hindari konsumsi obat tidur berkepanjangan, dan kebiasaan-kebiasaan lainnya.

  2. Terapi stimulus kontrol, tujuannya untuk mengatasi kesulitan memulai tidur. Cara yang dianjurkan a.l. : pergi ke tempat tidur hanya saat ingin tidur, tempat tidur hanya untuk tidur. Jangan nonton televisi, membaca, makan, berbicara di telepon di tempat tidur. Setelah di tempat tidur jangan sering melihat jam, sering bangun atau pergi ke kamar lain atau melakukan sesuatu yang menghambat kantuk, jam awal tidur yang tepat dan usahakan bangun pagi saat yang tepat.

  3. Terapi restriksi tidur: mengurangi waktu di tempat tidur dapat menolong konsolidasi tidur pasien. Misal pasien hanya dapat tidur 5 jam dari total 8 jam berbaring, maka waktu untuk berbaring dikurangi. Dianjurkan mengurangi waktu tidur tak lebih dari 4 jam perhari. Tidur diluar jam tidur harus dihindari.

  4. Terapi relaksasi dan biofeedback, antara lain hipnosis diri, relaksasi progresif, latihan pernafasan dalam efektif untuk relaksasi. Biofeedback memberikan stimulus fisiologik untuk relaksasi.

Categories: artikel kesehatan, Kesehatan | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Gangguan Tidur dan Nyeri Kepala

  1. Salam kenal dok,
    izin trackback artikel ini ya…
    Makasih…

  2. Pingback: Let’s Healthy And Wealthy » Apakah Anda Insomnia ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: