Perawat bukan kacung dokter

Didalam bekerja, apapun itu pekerjaannya, tentu mempunyai job description/tupoksi yg menjelaskan sejauh mana kewenangan, kewajiban dan hak dari si pekerja. Atau klo pake bahasa gw,ini dinamakan FITRAH pekerjaan. Kenapa fitrah?? Mungkin definisinya g terlalu tepat, tp ini meng-kiaskan bahwa pekerjaan itu mempunyai suatu form atau bentuk yg sudah dari sononya begitu. thats the work should be klo bhs inggrisnya. Ga ngerti?? Pasti…ntr dbawah akan djelaskan lebih dalam lagi.

Gw ambil contoh di kerja gw. Ada bbrp hubungan kerja yg tercipta disana, pasien-dokter, dokter-perawat, perawat-pasien. yg gw mo bahas disini adalah hubungan dokter-perawat. Gw tau dan sadar banyak pembaca setia blog gw ini perawat2 rsud (kagak ngarti pade tau drmana yak?). Jadi wajar klo ntr ada sedikit argumen dimari. Sama kaya argumen d fb gw.

Gw kuliah 7 tahun bukan suatu hal yg mudah, bisa menyandang titel dokter bukanlah hal yg instan. Selama kuliah dibentuk suatu pola pikir sistematis, kritis dan ilmiah di setiap kepala dokter, termasuk gw. Dilatarbelakangi hal itulah, setiap tindakan dan decision dalam mengobati pasien gw ambil.

Setiap pasien baru yg datang selalu gw lakukan anamnesa (bertanya ttg jalannya penyakit sekarang) berlanjut ke pemeriksaan fisik, lalu pemeriksaan penunjang sampai akhirnya sampai pada suatu kesimpulan diagnosa kerja dan diagnosa banding (kemungkinan penyakit yg serupa). Semua itu berjalan melalu suatu proses yg sistematis. Sambil tangan memegang pasien, mata menelusuri tampilan fisik pasien mulai ujung kepala sampai ujung kaki, oak berputar mikirin diagnosa kerja yg akan diambil. Sistematis bukan???

Setelah muncul diagnosa kerja, maka terapi pun dituliskan termasuk didalamnya tindakan2 apa aja yg akan dikenakan ke pasien, mulai dr pasang infus, pasang kateter urine, maupun tindakan lainnya.

Pada saat pasien dateng dng keadaan parah, maka tindakan yg lebih radikal pun harus segera dilakukan dan seringnya diluar jam kerja RS yg dinamakan tindakan CITO, kala terlambat, maka nyawa pasien kah yg dipertaruhkan.

Yg namanya diluar jam kerja, permintaan CITO datang dsaat kita sedang bersantai di rumah, atau saat sedang jalan2, siapa yg tau…kapanpun itu diperlukan. Biasanya udah dbuat jadwal selama sebulan, siapa yg melayani panggilan CITO tersebut setiap harinya. No excuse, kapanpun itu harus siap,bahkan ketika kita sedang pup di WC pun harus langsung berangkat. Dedikasi ini sudah terpatri kuat sejak lama sejak pertama dahulu menginjakkan kaki di fakultas kedokteran atau akper, akbid.

Namun sayangnya, meski dedikasi tersebut sudah disadari tapi pelaksanaannya tekendala sifat orang itu dan ego orang tersebut. Jadinya…tugas seringnya terbengkalai, kalaupun dilaksanakan tp dengan menggerutu. Kalian pembaca yg bekerja d bidang kesehatan macem gw ini pasti sering mendapati orang dengan sifat seperti ini.

Yang bikin gw jengkel adalah berawal dari sifat pemalas, ego yg besar, sehingga usulan tindakan CITO ini cenderung dipersulit. Bertanya hasil lab inilah, itulah, suhu tubuh, sadar atau ga? Sesek atau ga? Yg memang sebetulnya berhubungan dengan tindakan yg akan dilakukan. Tapiii…hello….gw dokter looh, semua hal itu udah gw periksa satu2 secara lengkap seperti yg gw terangin diatas, udah komprehensif dan sistematik banget, makanya gw bisa memutuskan untuk dilakukan tindakan tersebut.

Kesannya khan kaya yg meragukan dokter yg udah memeriksa..gini aja deh, kaya yg nanyain “udah tau caranya nyupir mobil?” ke michael schumacher (tau dah nulisnya kayak gmn?). Bukan maksud gw ego sok sok-an superior…tp please, klo sampe gw kelewat periksa itu semua atau gw asal cuap nyuruh tindakan tanpa didasarkan pada data klinis, itu bukan dokter namanya, taoi dukun.

Jadi sebetulnya, pertanyaan-pertanyaan itu hanyalah sebuah usaha untuk menghindar dari tindakan CITO, jadi saat ada sebuah data yg ga sesuai, tindakan bisa dipending. Padahal ga seperti itu…suatu tindakan itu udah dipertimbangkan matang2, bahkan sampai efek sesudah tindakan yg mungkin terjadi, udah dipertimbangkan pula. Keputusan tersebut, udah diketahui oleh dokter konsulen spesialis yg mana JUGA mempertimbangkan tindakan setelah menimbang ninmbang data klinis yg ada. Inget loh….spesialis penyakit dalam tuh sekolahnya 4-5 tahun dan lebih berat dan lebih komprehensif drpd sekolah doter umum. Mirisnya….meski sudah diACC oleh knsulen pun, masih aja ditanyakan dengan nada kaya men-dikte. Muka murung. Yg pastinya, kaya ga rela harus pulang lebih malam, harus diem d rs lebih lama lg.

Komentar paling bikin ga enak hati gw “jangan tiap hari donk CITO nya” lalu dbubuhi dengan cuap cuap tentang kondisi pasien spt inilah itulah. Dalem hati gw “iye..iye gw tau..pan gw yg meriksa”. Duh!!! Tapi harap diketahui…bahwa ini berkaitan dengan mental dan sifat yg bersangkutan. Dimanapun pasti banyak yg seperti ini. Orang yang disuruh ini itu tapi dibalas dengan muka mengkerut.

Sesungguh nya, hal ini seharusnya tidak dijadikan masakah besar, tapi karena hal ini berhubungan dengan hidup dan mati pasien, maka gw angkat ke facebook gw, alhamdulilkah banyak yg tersinggung dengan beragam argumennya. Gw sih maklumin aja soalnya dia cuma membela profesinya meskipun mereka tau itu merupakan hal yg salah, tapi mental mecanism denial ada di seiap orang,jadi gw ga bs salahin mereka ini. Biarlah….

Sekarang kita tinggal mikir, kembali ke job desc kita…tupoksi kita, sejauh mana kewajiban kita, hal hal apa aja yg harus kia lakukan dan apa yg ga boleh dilakukan dan mana yg ga usah dilakukan. Clear…beres…!! Simple khan??? Namun sayangnya, dari komentar2 yg ada, bisa gw simpulkan bahwa mereka merasa jadi kacung dokter. Gw ga ngerti apa dasar mereka berpendapat seperti itu…dan gw rasa ga ada alasan bt berpendapat seperti itu. Karena gw yakin apa yg dsuruh oleh dokter udah sesuai dengan kompetensi dia selaku perawat. Kecuali klo gw suruh perawat buat mijitin kaki gw, barulah boleh beranggapan djadiin kacung gw. Klo siswa disuruh ngepel bangsal ama senior..nah itu baru djadiin kacung…hehehe..semua jg pernah merasakan bukan?? Termasuk gw…hihi..

Terkait tentang job desc tersebut, maka gw ga abis pikir kenapa mereka sampe berpikiran jadi kacung dokter??apa ini karena mereka disuruh nyuntik ini itu, disuruh ct scan pasien, disuruh pasang kateter, disuruh pasang NGT?? Lalu apa salahnya??apa gw salah? Apa dokter salah klo nyuruh kaya gitu?

Dokter itu decision maker, otak kriminil nya..hehe….sedangkan perawat atau bidan adalah executor atau pelaksana. Jd kaya otak ama tangan kaki. Harus satu kesatuan. Badan tanpa kepala, ga bisa idup. Begitupun kepala tanpa badan ga bisa idup…kecuali di film suzanna. Kalo perawat bs protes djadiin kacung dsuruh ini itu. Apakah dengan demikian dokter boleh protes djadiin kacung perawat karena dsuruh mikir terus?? Ga khan?….ga ksian apa ama dokter yg kepalanya mulai menipis rambutnya?hihi…

Sudahlah….tunda masalah kacung mengkacungi. Mari kita lihat lagi lebih dalam. Dojter boleh lah dianggap enak2an, g usah berjibaku masang NGT, g usah bau2an ganti perban pasien ulkus DM. Taoi harap diingat, bahwa tanggung jawab lah yg membedakan. Dokter tanggung jawab penuh atas apa y dia putuskan, yg mana tertulis hitam diatas putih di status yg bisa dijadikan legal artis benda berkekuatan hukum atau bisa dijadikan bahan untuk menuntut dokter. Bahkan segala tindakan perawat pun bertanggung jawab secara langsung kepada dokter. Jadi bisa dbayangkan besarnya beban tanggung jawab yg harus ditanggung oleh dokter.

Jadi….janganlah anggap diri kacung, jika memang apa yg diminta sesuai dengan tugasnya selaku perawat/bidan. Inilah fitrah selaku dokter, selaku perawat, selaku bidan. Selayaknya fitrah maka harus disyukuri. Ini pula resiko yg seharusnya sudah disadari sejak kita memutuskan untuk sekolah dikesehatan. Terima lah advice dokter dengan lapang dada dan penuh keikhlasan. Karena keikhlasan itulah yg menentukan besaran pahalanya. Tanpa keikhlasan, kita bekerja dengan muka mengkerut, nafkahnya halal tapi pahalanya kurang banyak.

Ingat…senyum…sapa….salam….

Categories: gawean gw, isi pikiran gw, its my life | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: