Sebuah rumah di kebun bunga

Ada sebuah rumah, begitu indah meski tak mewah namun nampak nyaman untuk ditinggali. Terletak di tengah sebuah kebun bunga yang luas sekali, luas sehingga membuat rumah tersebut nampak begitu kecilnya.

Rumah itu berdinding kayu, berlantaikan kayu, dengan pilar pilar kuat yang menyangga atap yang kokoh. Ada 11 pilar, 5 pilar berjejer di depan, 6 pilar berbaris disamping nya. Semua berwarna putih gading. Begitu putih, begitu bersih, sehingga tampak mencolok berlatarkan kebun bunga aneka warna warni bunga.

Rumah itu memiliki sebuah pintu berwarna putih pula, dengan kaca patri berwarna merah, hijau, kuning, dan putih yang akan memberikan semburat cahaya warna warni kedalam rumah. Daun pintu tersebut berhiaskan tangkai yang terbuat dari pualam berwarna putih. Serasi dengan lantai kayu putih dan dinding putihnya.

So gracefuly…

Begitu indahnya, begitu agung nya…sehingga memancarkan sinar keagungan bagi siapapun yang melintas didepannya..

Termasuk aku yang begitu tertarik untuk mengunjunginya, setelah sekian lama berjalan, jauh sudah perjalanan yang sudah ditempuh, hujan kemarau, dingin panas, terlewati sudah. Kelelahan yang teramat sangat melanda tubuh yang telah kurus kering ini. Sebuah tempat berteduh dan secangkir susu hangat adalah sesuatu yang sudah lama diangankan.

Namun badan ini begitu kotornya, dengan peluh yang mengering di badan, debu dan lumpur yang menempel, tak bisa kusembunyikan muka lelah ini. Bukan ku tak ingin tersenyum, namun begitu lelahnya berjalan hingga aku tak sabar untuk rehat didalam sebuah ruang kamar nan hangat…begitu dingin diluar sini…

Maka kuberanikan diri menginjakkan kaki nan berlumpur ini di halaman rumah itu. Kumelangkah ke arah beranda, untuk meraih pintu berhias pualam. Kutarik namun tak terbuka, kuketuk sekali….kumenunggu adanya sahutan dari sang pemilik rumah…menunggu….dan masih menunggu…masih tak ada jawaban…lalu kuketuk kembali, tiga kali dengan lembut karena kutakutkan sang pemilik tekejut…kuucapkan Assalamualaikum warohmatullohi wa barokatuh…kutunggu, namun masih tak ada jawaban….

Kusadari bahwa aku telah mengotori beranda ini dengan lumpur dari kakiku. Aku tak mau sang pemilik marah kepadaku karenanya…

Lalu aku turun ke halaman, mendekati sebuah sumur air, kubersihkan kakiku yang berlumur lumpur hitam ini. Sebagian kotoran itu telah melekat kuat sehingga sulit dibersihkan, kugosok terus…meski peri dan sakit, pada akhirnya kakiku bersih juga. Kubersihkan tanganku pula, mukaku, terasa segar sekali air ini….satu persatu kulucuti pakaianku, untuk mandi…hingga tubuhku kembali bersih..

Lalu pakaianku bagaimana, aku tak punya lagi pakaian. Meski badanku telah bersih, namun aku benar2 tak punya pakaian lagi, dimana aku hendak mengganti pakaian ini?? Kecuali sang pemilik mau berbesar hati memberi aku sebuah pakaian yang layak untuk seorang faqir seperti aku ini.

Segera ku berbenah, memakai pakaian seadanya ini, namun kali ini tidak sebau sebelumnya. Kuberanikan diri untuk mendatangi beranda itu lagi. Sejenak ku berfikir, apakah akan ada yang menyahut dari dalam sana?? Aku tak tahu….satu satunya jalan untuk mengetahuinya adalah dengan mencobanya….lagi…

Perlahan kudekati pintu itu…kuketuk dengan lembut seraya berucap…. Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh…sunyi…tak ada jawaban…kumenunggu…kumenunggu…mulai muncul putus asa dalam hati lalu kemudian terdengar suara lembut perempuan dari dalam rumah… Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh…

Alhamdulillah….ada orangnya…

Pintu itu perlahan terbuka, namun hanya sedikit celah saja yang terbuka, dari celah itu terlihatlah sebuah paras manis seorang wanita berjilbab, dengan tahi lalat disudut bibirnya, semakin menghiasi keindahan paras mukanya..terpana aku dibuatnya, namun sedikit malu karena pakaianku yang kotor ini. Lalu aku beranikan diri menyapanya, bertanya namanya, lalu pada akhirnya pembicaraan berlanjut hingga hal lainnya. Begitu nikmatnya berbincang dengan wanita ini, begitu sejum mendengar intonasi nada berbicaranya. Membuatku sering tersenyum melihat senyuman manisnya, serasa lelah yang ada, hilang begitu saja.

Sekian lama berbincang, namun belum ada tawaran untuk singgah. Daun pintu tetap terbuka sedikit, dihalangi oleh tubuhnya..ingin aku manawarkan diri untuk masuk kedalam,tapi itu sangatlah tidak sopan. Sedikit aku mengintip lewat jendela, namun tak ada yang bisa kulihat karena jendela itu tertutup tirai berwarna kuning gading.

Aku tahu, pakaianku sangatlah kotor, namun aku ingin segera istirahat merebahkan tubuhku nan kurus dan lemah ini. Ingin kujadikan rumah ini sebagai tempat berteduh terakhirku, karena aku sudah terlalu lelah untuk mencari. Ingin kurasakan hangatnya rumah kayu ini, meski sederhana tapi aku jauh lebih menyukainya daripada rumah besar bertiang tinggi menjulang ke langit. Sekian banyak percakapan yang kami lakukan namun tidak lantas aku dipersilahkan masuk, untuk melanjutkan perbincangan ini di dalam. Namun aku tak akan patah arang…jika dia memang membutuhkan teman berbicara, maka inilah aku….aku ada setiap saat..

Kapan kiranya aku layak untuk memasuki rumah ini? Kan kutunggu selalu hingga pintu pualam ini terbuka lebar…

Categories: isi pikiran gw, its my life | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: