Salafi vs aswaja (2)

Kenapa bisa muncul sifat menyalahkan Dan mengkafirkan seperti ITU?

Tentu semua ITU dikarenakan sifat fanatisme buta. Atau taklid buta. Sekarang mari Kita buka kisah seorang nabi yang mulia, yang pernah bertemu dengan Alloh, lalu diperintahkan Alloh agar berguru kepada seorang manusia.

Nabi ITU bernama Musa, beliau diperintahkan Alloh untuk mencari seorang manusia bernama khidir untuk lantas berguru kepadanya. Nabi Musa sampe bertanya Tanya ada APA INI? Kenapa sy mesti berguru pada Dia? Apa keistimewaannya?

Singkat cerita di perjalanan nya Musa mendapati banyak Hal yang dirasanya aneh. Khidir melubangi perahu orang lain, membunuh anak laki laki, merobohkan benteng rumah seseorang. Kontan Musa pun protes. Dan ternyata dijelaskan lah oleh khidir maksud dilakukannya Hal Hal yang dianggap oleh mUSA melanggar syariat.

Perahu yang dibolongi adalah milik nelayan miskin yang jika mereka melaut, Maka raja dzolim akan merampas hasilnya. Selamatlah mereka. Anak yang dibunuh adalah anak yang kelak jika dewasa akan membawa mudorot bagi orang tuanya, setelah dibunuh kelak akan Alloh ganti dengan anak yang berbakti kepada orang tua. Lalu tembok yang diruntuhkan karena dibalik temBok ITU terkubur harta yang menjadi hak anak yatim pemilik rumah ITU.

Dari sini bisa Kita ambil kesimpulan, bahwa Musa sangat memegang teguh syariat. Sengaja Alloh perintahkan untuk berguru kepada seseorang yang selain memegang teguh syariat, juga hakikat. Kulit Dan isinya. Maka pantas jika Musa tidak mengerti Malah cenderung menyalahkan khidir. Ternyata…di akhir cerita diperlihatkan kekurangan Musa. Inilah cara Alloh mendidik Musa.

Naah kisah dalam al Qur’an INI ternyata relevan dengan fenomena jaman sekarang. Dimana kelompok yang memegang teguh syariat tanpa hakikat merasa diri paling benar lalu suudzon kepada kelompok lain yang ga sefaham. Mereka lupa bahwa mereka hanya nelihat secara dzohirnya saja. Cangkangnya saja. Padahal masih ada isi yang belum mereka mengerti.

Imam Malik berkata, “Barangsiapa bersyariat tanpa berhakikat, niscaya ia akan menjadi fasik. Sedang yang berhakikat tanpa bersyariat, niscaya ia akan menjadi zindik.Barangsiapa menghimpun keduanya [syariat dan hakikat], ia benar-benar telah berhakikat.”

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: